BacaJogja – Di sebuah dusun kecil di kaki Gunung Merapi, tepatnya di Tegalweru, Kemalang, Klaten, hidup seorang gadis muda bernama Devita Febrianisa. Di tengah keterbatasan ekonomi dan akses pendidikan, semangatnya tak pernah padam. Ayahnya, Rejono, seorang sopir truk pengangkut pasir di Kali Gendol. Ibunya, Surati, penjahit rumahan yang hanya lulusan SD. Tapi dari rumah sederhana mereka, lahir mimpi besar: menyekolahkan Devita setinggi-tingginya.
Kini, mimpi itu menemukan jalannya. Devita resmi menjadi mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM), diterima melalui jalur Penelusuran Bibit Unggul Berprestasi (PBUB) di Program Studi Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Ia pun mendapat subsidi 100% untuk Uang Kuliah Tunggal (UKT). Pencapaian ini bukan semata keberuntungan, tapi hasil dari kerja keras, doa tanpa henti, dan ketekunan bertahun-tahun.
Dari Penolakan hingga Panggung Prestasi
Perjalanan Devita menuju kampus Bulaksumur tak semudah membalik telapak tangan. Ia sempat ditolak oleh beberapa perguruan tinggi. Rasa kecewa sempat menyesakkan dada, bahkan membuatnya berpikir untuk menyerah. Tapi di titik itulah, ia mengingat wajah kedua orang tuanya—yang tak pernah lelah memberikan semangat.
Baca Juga: Jadwal Event Jogja Agustus 2025: Dari Fashion Week, Konser Musik, hingga Festival Budaya!
“Saya selalu ingat ada orang yang pengen saya berhasil. Mereka pengen hidup saya lebih baik dari mereka. Itu jadi tamparan buat saya kalau mau nyerah,” ucap Devita haru, Sabtu (2/8).
Saat masih bersekolah di MAN 2 Sleman, Devita menjadikan sekolah sebagai ladang pembuktian. Ia aktif di kegiatan riset dan organisasi Rohis selama dua periode. Prestasinya pun menembus panggung nasional hingga internasional:
- Medali Perak di International Science and Invention Fair (ISIF) 2022
- Medali Emas pada Pelatihan Penyusunan Proposal FIKSI 2024
- Finalis lomba Ekonomi Research Paper KOMPeK 25 tahun 2023
- Juara 3 lomba Videografi Kesejarahan Nasional History Week 2024
Namun bukan hanya kemenangan yang membentuknya, melainkan juga kekalahan. Ia belajar dari setiap kegagalan untuk terus memperbaiki diri. Baginya, setiap langkah adalah pelatihan menuju masa depan.
Baca Juga: Rute dan Jadwal Kirab Ageng Saparan Bekakak 2025 di Sleman, Warga Diminta Hindari Jalan Ini
Doa dan Air Mata Orang Tua
Di balik pencapaian Devita, ada doa dan keteguhan hati dari Surati dan Rejono. Kedua orang tua ini tak punya warisan harta, tetapi memberikan yang lebih penting: dukungan tanpa syarat.
“Ibu saya ikut kursus menjahit karena ingin tetap bisa produktif meskipun hanya di rumah. Ayah saya setiap hari mengambil pasir di Kali Gendol untuk menafkahi kami,” tutur Devita.
Ketika pengumuman diterima di UGM datang, Rejono tak mampu menahan air matanya. “Kami cuma lulusan SD, tapi anak kami bisa kuliah di UGM. Kami tidak pernah membayangkan sebelumnya. Kami hanya ingin dia bisa hidup lebih baik dari kami,” ujarnya, tersedu.
Surati, sang ibu, menambahkan, “Kami sangat berterima kasih sekali kepada UGM. Semoga Devita semakin semangat dan menjadi generasi penerus keluarga yang sukses.”
Baca Juga: Misteri Azka Hilang di Pantai Siung Gunungkidul: Mukena, Sandal, dan Obat Ditemukan di Watu Togok
Pendidikan untuk Semua
Universitas Gadjah Mada terus membuka jalan bagi anak-anak bangsa, apa pun latar belakangnya. Melalui skema seperti subsidi UKT dan jalur PBUB, UGM berkomitmen memberi ruang bagi mereka yang punya potensi dan semangat juang tinggi.
Kisah Devita bukan hanya soal prestasi. Ini tentang harapan, tentang keberanian seorang anak muda dari pelosok desa untuk bermimpi besar. Tentang cinta orang tua yang tak pernah berhenti. Dan tentang bagaimana pendidikan bisa menjadi jembatan untuk mengubah nasib.
Di akhir pertemuan, Devita memeluk erat kedua orang tuanya. Tak banyak kata yang terucap, hanya pelukan yang hangat dan doa yang mengalir dalam diam. Di balik ketegaran seorang mahasiswa baru UGM, ada kekuatan cinta dari kaki Merapi yang membawanya hingga ke Bulaksumur. []






