Sri Sultan dan Dedi Mulyadi Turun ke Jalan, Dua Gaya Pemimpin Redam Massa Aksi

  • Whatsapp

BacaJogja – Dua kepala daerah, Sri Sultan Hamengku Buwono X di Yogyakarta dan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi di Bandung, sama-sama turun langsung menemui massa aksi yang tengah memadati jalanan. Namun, suasana yang tercipta berbeda.

Sultan Hamengku Buwono X: Meneduhkan dengan Gending Jawa

Malam itu, halaman Mapolda DIY dipenuhi ribuan massa aksi yang masih bertahan hingga dini hari. Ketegangan perlahan mencair ketika terdengar alunan gending Raja Manggala dari gamelan Jawa. Dari balik gedung, Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X berjalan keluar, didampingi para putri dan kerabat Keraton—GKR Condrokirono, GKR Hayu, serta KPH Yudanegara—bersama Kapolda DIY Irjen Pol Anggoro Sukartono.

Read More

Baca Juga: Ini Daftar Nama 7 Anggota Brimob Pelindas Ojol Affan Kurniawan hingga Meninggal

Seperti prosesi miyos di Keraton, langkah Sultan malam itu menghadirkan wibawa dan keteduhan. Di hadapan massa, Sultan menyampaikan pesan demokrasi.

“Yang Anda lakukan adalah bagian dari tumbuhnya demokrasi di Yogyakarta. Tapi demokratisasi harus dilakukan dengan baik, untuk mendidik kita semua, termasuk saya,” ujarnya.

Sultan juga menyampaikan duka atas meninggalnya Affan Kurniawan, pengemudi ojek online yang tewas dalam insiden dengan kendaraan taktis Brimob di Jakarta.

“Mengapa selalu ada korban dalam membangun demokrasi? Di Yogya kita bisa berdialog, karena Yogya adalah tempat menghargai hak warga,” tegasnya.

Sang Raja kemudian mengajak massa menyalurkan aspirasi secara tertib melalui jalur resmi, sebelum mengakhiri pertemuan dengan pesan sederhana: “Mari kita sama-sama pulang dan tidur.”

Baca Juga: Lilin, Tabur Bunga, dan Salat Gaib: Solidaritas Ojol Yogyakarta untuk Affan, Korban Rantis Brimob

Dedi Mulyadi
Gubernur Dedi Mulyadi dilempari botol. (IG Dedi Mulyadi)

Dedi Mulyadi: Diteriaki Massa di Bandung

Berbeda dengan Yogyakarta, suasana di Kota Bandung justru berlangsung panas. Ribuan massa ojol dan mahasiswa mengepung Gedung DPRD Jawa Barat pada Jumat malam (29/8/2025). Gubernur Jabar Dedi Mulyadi tiba sekitar pukul 19.30 WIB, dikawal aparat TNI-Polri.

Namun, kehadiran pria yang akrab disapa KDM itu tidak langsung diterima baik. Massa meneriaki dirinya dengan seruan “revolusi” dan sindiran “jangan syuting dulu”. Bahkan, Dedi sempat terkena lemparan botol air mineral sebelum akhirnya dievakuasi aparat ke dalam gedung dewan.

Baca Juga: Mengenal Rantis Brimob yang Melindas Ojol: Harga, Spesifikasi, dan Kontroversinya

Situasi kian memanas setelah massa melempari Gedung DPRD Jabar dengan batu, petasan, hingga bom molotov. Sebuah bangunan aset MPR RI di depan gedung DPRD pun terbakar akibat lemparan molotov.

Meski begitu, KDM tetap berupaya merangkul massa melalui media sosialnya. Ia mengunggah momen bersama sejumlah demonstran dan berpesan:

“Saya minta jangan menyentuh Gedung Sate ya. Saya akan selalu berbuat adil buat kalian semua.”

Dua Gaya, Satu Tujuan

Kedua pemimpin daerah ini menunjukkan dua pendekatan berbeda menghadapi gejolak massa. Sri Sultan hadir dengan simbol budaya dan kelembutan, sementara Dedi Mulyadi memilih cara langsung turun ke lapangan meski diwarnai ketegangan.

Dua gaya berbeda itu sama-sama memperlihatkan upaya pemimpin daerah meredam gelombang protes dan menjaga agar demokrasi tidak berujung pada kerusuhan yang lebih besar. []

Related posts