BacaJogja – Suasana di Balai Besar Pendidikan dan Pelatihan Kesejahteraan Sosial (BBPPKS) Yogyakarta pagi itu terasa berbeda. Di halaman utama, deretan bus sekolah berwarna cerah berdiri rapi, siap mengantarkan anak-anak menuju ruang belajar mereka.
Namun, di balik penyerahan simbolis bus tersebut, tersimpan makna yang jauh lebih dalam: soal keadilan sosial, masa depan pendidikan, dan kolaborasi lintas sektor.
Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X menjadi salah satu tokoh yang paling menyoroti makna tersebut. Dalam sambutannya, Sultan menegaskan bahwa keberhasilan bangsa di era percepatan perubahan sosial tidak lagi ditentukan oleh kekuatan satu pihak, melainkan oleh kemampuan berbagai pihak untuk berkolaborasi.
“Kerja lintas sektor seperti yang kita saksikan hari ini adalah bentuk baru dari kepemimpinan kolaboratif. Pemerintah harus hadir dengan pendekatan holistik — menghubungkan akses sosial, mobilitas, dan masa depan pendidikan anak bangsa,” ujarnya.
Menurut Sri Sultan, penandatanganan kesepakatan antara Kementerian Sosial RI dan Kementerian Perhubungan RI bukan sekadar seremoni birokrasi. Ia menilai langkah itu sebagai simbol perubahan paradigma pembangunan nasional, dari yang semula berbasis program (program-based policy) menjadi pembangunan yang berpusat pada manusia (human-centered policy).
“Kita tidak lagi bicara tentang mengirim anak ke sekolah, tetapi tentang membangun jembatan sosial agar setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk bermimpi dan tumbuh,” tutur Sultan.
Sultan juga mengutip hasil kajian Kementerian Sosial yang menunjukkan bahwa transportasi inklusif mampu meningkatkan peluang anak bertahan di sekolah hingga 30 persen lebih tinggi. Data itu, katanya, menjadi bukti nyata bahwa akses bukan sekadar soal jalan dan kendaraan, melainkan tentang membuka masa depan dan menciptakan generasi yang berdaya. “Tanpa empati, mobilitas hanya akan menciptakan kesenjangan baru,” tegasnya.
Atas nama Pemerintah Daerah DIY, Sri Sultan menyampaikan apresiasi kepada kedua kementerian atas langkah sinergis yang dilakukan. “Yogyakarta selalu terbuka menjadi laboratorium kolaborasi, tempat kebijakan diuji oleh realitas dan inovasi lahir dari empati,” ujarnya penuh keyakinan. Ia berharap Yogyakarta bisa terus menjadi contoh praktik baik pembangunan sosial yang berpihak pada masyarakat dan generasi muda.
Baca Juga: Turki Akan Bangun Pusat Budaya di Yogyakarta, Perkuat Hubungan 75 Tahun dengan Indonesia
Dalam kesempatan yang sama, Menteri Sosial RI Saifullah Yusuf (Gus Ipul) menyebut kerja sama tersebut bukan sekadar penandatanganan dokumen administratif. “Bus sekolah ini bukan sekadar kendaraan, tetapi jembatan menuju masa depan anak-anak bangsa — dari rumah sederhana menuju gerbang ilmu pengetahuan, dari keterbatasan menuju kesempatan,” ungkapnya.
Sementara itu, Menteri Perhubungan RI Dudy Purwagandhi menambahkan bahwa pada tahun anggaran 2025, 25 unit bus sekolah akan diserahkan untuk mendukung Sekolah Rakyat di berbagai daerah, termasuk dua unit untuk Kabupaten Sleman dan Bantul.
Lebih dari sekadar sarana transportasi, Bus Sekolah Rakyat kini menjadi simbol harapan. Ia membawa pesan bahwa pendidikan tidak boleh menjadi hak istimewa, melainkan hak semua anak bangsa. Program ini diharapkan memperluas akses belajar bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu, agar setiap perjalanan menuju sekolah juga menjadi perjalanan menuju masa depan yang lebih baik. []






