BacaJogja – Konsep keamanan modern menuntut pendekatan baru yang lebih manusiawi. Tidak cukup hanya mengandalkan perangkat canggih atau regulasi yang kaku, keamanan perlu dibangun melalui partisipasi aktif masyarakat. Hal inilah yang ditegaskan Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X dalam Apel Jaga Warga bertajuk “Srawung Agung Kelompok Jaga Warga Untuk Jogja Damai” di Mapolda DIY, Jumat (21/11).
Dalam amanahnya, Sri Sultan menegaskan bahwa kompleksitas ancaman masa kini kian berlapis. Celah kecil pada aspek manusia dapat menjadi pintu masuk gangguan besar. Karena itu, paradigma baru people-centered security menjadi keharusan dalam sistem keamanan Yogyakarta.
“Kita harus bergerak menuju paradigma baru: people-centered security. Pendekatan yang menempatkan masyarakat sebagai subjek dan mitra strategis melalui empati, komunikasi dua arah, dan tanggung jawab bersama,” ujar Sri Sultan.
“Ketika keamanan dijalin bersama warga, yang tumbuh bukan sekadar keteraturan, tetapi resiliensi sosial.”
Baca Juga: Pemda DIY Targetkan Kemiskinan Satu Digit di 2026, Program Prioritas Digenjot Akhir Tahun
Sri Sultan menilai Jaga Warga memiliki peran strategis dalam konteks ini. Sebagai jembatan budaya, Jaga Warga memastikan bahwa penegakan keamanan tidak semata-mata bersandar pada tindakan represif, tetapi berlandaskan dialog, kohesi sosial, dan kebijaksanaan masyarakat.
Ia menyebut konsep keamanan semesta — keamanan yang tumbuh dari suasana batin masyarakat: warga dihormati, didengarkan, dan dilibatkan. Untuk memperkuat peran tersebut, mulai 2025 pembentukan Jaga Warga diperluas tidak hanya di tingkat kalurahan, tetapi juga hingga pedukuhan.
“Setiap pedukuhan akan ada Jaga Warga. Saya menerjemahkan Jaga Warga sebagai civil police, yang bersama kepolisian menjaga wilayah agar tetap aman dan nyaman,” jelasnya.
Menjelang momen Natal dan Tahun Baru, Sri Sultan juga menitipkan pesan agar Jaga Warga menjadi pagar budaya yang menjaga harmoni sosial.
“Bila Polri bekerja dengan tata, titi, tatas, titis dan Jaga Warga melangkah dengan tanggap, tangguh, tuntas, maka Yogyakarta akan berada dalam suasana titi tentrem, karta raharja,” ujarnya.
Kapolri Tegaskan Sinergi Polri dan Masyarakat
Setelah apel, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menegaskan bahwa Jaga Warga merupakan simbol persatuan antara masyarakat dan Polri. Ia menyebut keterlibatan masyarakat dalam pranata sosial adalah bagian dari budaya dan kearifan lokal yang terus dijaga oleh DIY.
“Ini adalah warisan kebudayaan yang terus ditumbuhkan oleh Ngarso Dalem. Bagi kami, ini bagian dari kegiatan kepolisian dan komunitas polisi,” kata Listyo.
Ia menekankan bahwa Polri tidak dapat bekerja sendiri dalam menjaga keamanan dan ketertiban. Sinergi dengan masyarakat, khususnya Jaga Warga yang berbasis pedukuhan, sangat penting untuk menjaga harmoni sosial.
“Saya minta jajaran Polres, Polsek hingga kelurahan terus berkolaborasi dengan Jaga Warga. Kearifan lokal sering kali lebih efektif menyelesaikan masalah,” tegasnya. []






