Malioboro Diperkuat sebagai Sumbu Kebudayaan, Pemkot Yogyakarta Tegaskan Komitmen Pelestarian Budaya

  • Whatsapp
pedestrian malioboro
Malioboro full pedestrian 1-2 Desember 2025. (Ist)

BacaJogja – Pemerintah Kota Yogyakarta menegaskan komitmennya untuk terus mendorong kawasan Malioboro sebagai Sumbu Kebudayaan yang mampu memancarkan nilai kemuliaan dan peradaban bagi masyarakat. Penegasan tersebut disampaikan Wakil Wali Kota Yogyakarta, Wawan Harmawan, saat menjadi narasumber dalam gelaran YogyaSemesta Seri 137 di Pendhapa Wiyatapraja, Komplek Kepatihan, Kamis malam (11/12/2025).

Wawan menyampaikan bahwa Kota Yogyakarta memiliki potensi seni dan budaya yang sangat besar dan berpengaruh. Saat ini terdapat 490 sanggar, komunitas, dan kelompok seni budaya yang aktif bergerak di berbagai bidang, mulai dari seni tari, seni tradisi, musik, karawitan, bregada, ketoprak, teater, hingga berbagai ekspresi budaya lainnya.

Read More

“Potensi seni dan budaya kita luar biasa. Kota Yogyakarta ini hidup dengan denyut tradisi dan kreativitas yang tidak pernah padam,” ujar Wawan.

Warisan Budaya Dunia Jadi Fondasi Penguatan Malioboro

Selain kekuatan komunitas seni, Yogyakarta juga memiliki modal kebudayaan yang telah diakui dunia. Sumbu Filosofis Yogyakarta, yang ditetapkan UNESCO sebagai Warisan Dunia (World Heritage), menjadi salah satu landasan kuat pengembangan kawasan Malioboro sebagai ruang seni budaya.

Kota Yogyakarta juga memiliki empat Kawasan Cagar Budaya (KCB), yaitu:

  • KCB Kraton
  • KCB Pakualaman
  • KCB Kotabaru
  • KCB Kotagede

Keberadaan berbagai warisan budaya tersebut menjadi pijakan penting untuk menumbuhkan Malioboro sebagai ruang seni budaya yang hidup secara alami maupun melalui program pemerintah.

Malioboro, Ruang Publik yang Berkembang Menjadi Panggung Budaya

Wawan menegaskan bahwa Malioboro bukan lagi sekadar kawasan wisata dan pusat ekonomi. Kini, Malioboro telah bertransformasi menjadi ruang publik dan panggung atraksi seni budaya, dengan berbagai pertunjukan yang rutin berlangsung setiap pekan. Kegiatan tersebut melibatkan masyarakat, komunitas budaya, hingga pelaku industri kreatif.

“Malioboro bukan sekadar tempat wisata, tetapi juga tempat berekspresi, berkarya, dan merawat identitas budaya,” ungkapnya.

Dalam pemaparannya, Wawan juga menjelaskan upaya Pemerintah Kota Yogyakarta melalui Dinas Kebudayaan dalam melakukan pembinaan dan penataan seniman jalanan di Malioboro.

Saat ini terdapat 116 seniman jalanan yang telah melalui proses koordinasi, kurasi, serta peningkatan kapasitas agar mampu menampilkan pertunjukan yang lebih berkualitas. Mereka juga diarahkan untuk tampil pada titik-titik pertunjukan yang sudah ditentukan agar lebih tertib dan tidak mengganggu kenyamanan pengunjung.

Penataan ini mendapat apresiasi positif dari masyarakat dan wisatawan karena tetap mempertahankan esensi seni jalanan sebagai bagian dari budaya.

Program Sekar Rinonce Dorong Ekonomi dan Pelestarian Budaya

Selain menjadi ruang budaya, Malioboro juga memiliki potensi besar untuk menguatkan ekonomi masyarakat. Salah satu program yang menggerakkan ekosistem seni dan UMKM adalah Sekar Rinonce, pertunjukan seni budaya rutin setiap hari Sabtu yang melibatkan banyak sanggar dan komunitas.

Program ini terbukti memberikan dampak ekonomi signifikan bagi pelaku seni, UMKM, dan pelaku industri kreatif di sepanjang Malioboro.

Menurut Wawan, geliat UMKM dan aktivitas kreatif di Malioboro menjadi bukti bahwa seni budaya dan perekonomian bisa berjalan beriringan, saling menguatkan, serta memberikan manfaat luas bagi masyarakat.

Di akhir pemaparannya, Wawan menegaskan bahwa Malioboro telah mengalami transformasi besar. Tak lagi sekadar destinasi wisata, Malioboro kini menjadi ruang ekspresi masyarakat yang dipenuhi aktivitas seni, budaya, dan kreativitas.

“Inilah wajah Yogyakarta yang kita jaga dan kita kembangkan bersama,” tegasnya.

Melalui berbagai langkah strategis tersebut, Pemerintah Kota Yogyakarta berharap Malioboro benar-benar menjadi Sumbu Kebudayaan yang memperkuat identitas kota sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi kemuliaan dan peradaban untuk generasi mendatang. []

Related posts