BacaJogja — Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (Pemda DIY) mengambil langkah agresif guna menekan angka kejahatan jalanan dan geng pelajar yang selama ini meresahkan masyarakat. Dalam upaya mempercepat pencegahan klitih Pemda DIY kini tengah mematangkan pembentukan satuan tugas (satgas) khusus lintas sektoral yang melibatkan lembaga-lembaga strategis negara.
Langkah ini diambil sebagai bentuk komitmen nyata bahwa Yogyakarta tidak tinggal diam dalam menjaga keamanan serta kenyamanan, baik bagi warga lokal maupun para wisatawan yang berkunjung.
Sekretaris Daerah (Sekda) DIY, Ni Made Dwipanti Indrayanti, mengungkapkan bahwa satgas ini akan menjadi ujung tombak penanganan kejahatan jalanan dengan pendekatan yang lebih terukur.
“Tiga langkah utama yang kami siapkan adalah pencegahan, penegakan hukum, dan rehabilitasi,” ujar Ni Made saat ditemui di kawasan Candi Prambanan, Sabtu (23/5/2026).
Tidak tanggung-tanggung, satgas khusus ini tidak hanya mengandalkan unsur internal pemerintah daerah seperti Satpol PP. Pemda DIY turut menggandeng kepolisian, TNI, hingga Badan Intelijen Negara (BIN) dan Badan Narkotika Nasional (BNN).
Kolaborasi lintas instansi yang masif ini diharapkan mampu mengurai akar persoalan kejahatan jalanan dari hulu ke hilir. Termasuk di antaranya menyelidiki kaitan antara aksi geng pelajar dengan penyalahgunaan narkoba serta minuman keras (miras). Saat ini, proses pembentukan satgas sedang berfokus pada pemetaan peran masing-masing unsur agar target kerja yang ditetapkan dapat berjalan jelas dan efektif.
Tahap Awal: Pemetaan Kelompok Berbasis Data Intelijen
Sebagai langkah awal, Pemda DIY mulai mengumpulkan data komprehensif dan memetakan kelompok-kelompok yang terindikasi terlibat dalam kejahatan jalanan beserta karakteristik pergerakan mereka. Data intelijen dan lapangan ini nantinya akan menjadi landasan utama dalam menentukan strategi penindakan yang tepat sasaran.
“Kalau peta sudah jelas, penanganannya bisa lebih konkret,” tegas Ni Made.
Di samping penegakan hukum secara tegas, pencegahan klitih Pemda DIY juga mengedepankan pendekatan sosial dengan memperkuat benteng pertahanan di tingkat keluarga dan masyarakat.
Salah satu program yang digencarkan adalah gerakan “Ibu Memanggil”. Program ini diinisiasi untuk mendorong para orang tua agar lebih aktif dan disiplin dalam mengawasi anak-anak mereka, terutama saat memasuki jam malam.
Selain itu, optimalisasi program Jaga Warga di tingkat kampung kembali digalakkan. Melalui Jaga Warga, alur informasi dan pengawasan di lingkungan rukun tetangga dapat berjalan lebih cepat, sehingga potensi gesekan antarpelajar dapat diantisipasi sejak dini sebelum pecah menjadi aksi kekerasan di jalanan.
Pendidikan Karakter Khas Kejogjaan
Pemda DIY menyadari bahwa fenomena psikologis remaja yang mudah tersulut emosi dan mencari pengakuan di dalam kelompok tertentu membutuhkan penanganan dari aspek edukasi. Oleh karena itu, pendekatan pendidikan karakter berbasis nilai-nilai budaya lokal menjadi salah satu pilar penting.
Pendekatan pendidikan khas Kejogjaan diharapkan mampu membentuk kembali perilaku generasi muda agar lebih santun, saling menghormati, dan menjauhi budaya kekerasan.
“Kita ingin anak-anak tidak hanya pintar, tapi juga punya karakter dan nilai budaya yang kuat,” tambah Ni Made.
Penegakan Hukum Tanpa Toleransi dan Target Nol Kasus
Meski mengedepankan aspek edukasi dan sosial, Pemda DIY menegaskan tidak ada ruang toleransi bagi tindakan kriminal yang sampai membahayakan nyawa orang lain. Penegakan hukum tetap berjalan tegas sesuai aturan yang berlaku.
Namun, bagi pelaku yang membutuhkan pemulihan, pendekatan rehabilitasi juga disiapkan melalui pembentukan kelompok kerja (pokja) khusus.
Pemda DIY memasang target ambisius dalam program ini. Evaluasi progres kerja satgas akan dilakukan secara berkala. Target awal dari pergerakan satgas ini diharapkan mulai terlihat dalam dua bulan ke depan, dengan sasaran jangka panjang mencapai target zero accident atau nol kejahatan jalanan dalam kurun waktu satu tahun.






