Tangis Pagi Hari di Bantul: Balita Tenggelam Saat Ayah Bekerja, Ibu Sibuk Membuat Kue

  • Whatsapp

BacaJogja – Jumat pagi yang seharusnya tenang di Dusun Kunden, Jambidan, Banguntapan, berubah menjadi duka mendalam. Seorang balita, SK, yang baru berusia dua tahun, ditemukan tak bernyawa di kolam wisata Wanadesa, hanya beberapa meter dari rumahnya.

Pagi itu, SK seperti biasa bermain di halaman rumah. Ayahnya sudah berangkat bekerja sejak pukul lima pagi sebagai petugas kebersihan. Ibunya, EN, tengah sibuk mempersiapkan pesanan kue di dapur rumah. Aktivitas yang sudah menjadi rutinitas, namun kali ini berakhir tragis.

Read More

Sekitar pukul 08.00 WIB, EN mulai merasa gelisah. Rumah terasa terlalu sunyi. Ia memanggil-manggil nama anaknya, namun tak ada jawaban. Panik, ia langsung menyebarkan pesan ke grup WhatsApp kampung, berharap ada tetangga yang melihat SK.

Baca Juga::Misteri dan Pesona Pantai Parangtritis Yogyakarta: Wisata Alam Eksotis di Balik Legenda Nyai Roro Kidul

Tak lama berselang, sekitar pukul 08.30 WIB, Suharto (62) yang baru pulang dari sawah melihat sesuatu mengambang di permukaan kolam. Bersama tetangganya, Suherman (46), mereka segera mendekat. Hati mereka seketika runtuh saat melihat sosok mungil yang sudah tak bernyawa. Di tepi kolam, sebuah truk mainan berwarna cerah tergeletak—diduga milik SK.

Tubuh kecil itu segera dilarikan ke RS Rajawali Citra. Tapi takdir berkata lain. Nyawa Saka tak bisa diselamatkan.

“Kemungkinan korban tercebur saat hendak mengambil mainannya,” ujar petugas Polsek Banguntapan yang menangani kasus ini. Pihak kepolisian juga memastikan bahwa insiden ini murni kecelakaan.

Baca Juga: Update Pencarian Wisatawan Semarang yang Hilang di Parangtritis: Hari Kedua Masih Nihil

Usai kejadian nahas itu, rumah sederhana milik keluarga SK dipenuhi pelayat. Suasana haru menyelimuti warga sekitar. Kepergian anak semata wayang itu meninggalkan luka mendalam, bukan hanya bagi orang tuanya, tetapi juga bagi seluruh warga dusun yang mengenal Saka sebagai anak ceria dan aktif.

Satu momen lengah telah merenggut segalanya. Tragedi ini menjadi pengingat bahwa anak-anak, sekecil apapun, membutuhkan pengawasan tanpa jeda. Sebab dunia bagi mereka belum sepenuhnya bisa dibaca, sementara bahaya bisa datang dalam sekejap. []

Related posts