178 Ingkung dan Semangat Gotong Royong Warnai 10 Tahun Tebing Breksi

  • Whatsapp
ingkung tebing breksi
10 Tahun Tebing Breksi: Dari Tambang Kapur Menuju Panggung Wisata, Dirayakan dengan 178 Ingkung (ist)

BacaJogja – Sepuluh tahun silam, tak banyak yang melirik areal gersang bekas pertambangan batu kapur di Sambirejo, Prambanan, Sleman. Kini, tempat itu menjelma menjadi landmark wisata alam dan budaya yang mengundang decak kagum: Tebing Breksi. Perayaan satu dasawarsa keberadaannya yang digelar pada Jumat (30/5/2025) bukan sekadar seremoni, melainkan selebrasi atas perjalanan luar biasa—dari tambang tandus menuju tambang pesona.

Di malam puncak perayaan bertajuk “Tebing Breksi, Dulu, Kini, dan Esok: Dari Bekas Tambang Jadi Destinasi Favorit”, hadir para tokoh penting dari Pemerintah Kabupaten Sleman hingga Pemerintah Provinsi DIY. Semua menyuarakan harapan besar: Tebing Breksi tak hanya jadi ikon wisata, tapi juga penggerak ekonomi lokal.

Read More

Drs. Susmiarto, S.E., mewakili Bupati Sleman, menegaskan pentingnya inovasi berkelanjutan dalam pengelolaan destinasi.

“Destinasi wisata sekarang saingannya ketat. Maka pengelola harus terus berinovasi,” ujarnya.

Baca Juga: Tragedi Longsor Gunung Kuda Cirebon: Identitas 14 Meninggal, 11 Masih Tertimbun

Ia menambahkan, pembukaan jalur Sleman–Gunungkidul akan semakin memudahkan akses menuju Tebing Breksi, membuka peluang peningkatan kunjungan wisatawan, apalagi di tengah pembatasan perjalanan ke luar daerah yang masih berlaku di sejumlah tempat.

Sementara itu, Sekretaris Daerah Provinsi DIY, Beny Suharsono, menyebut Tebing Breksi sebagai “tambang nilai” yang kini melampaui sekadar objek wisata.

“Dulu tambang batu, sekarang tambang pesona. Maka ke depan kita tambang nilai,” katanya, menekankan bahwa Breksi harus menjadi sumber nilai sosial, ekonomi, dan budaya.

Refleksi dalam Ritual dan Rasa Syukur

Perayaan satu dasawarsa bukan sekadar kilas balik, melainkan juga ruang refleksi dan harapan. Sarasehan digelar untuk menggali perjalanan masa lalu, capaian hari ini, serta strategi masa depan. Momen spiritual diwujudkan melalui pemotongan tumpeng oleh Beny Suharsono yang kemudian diserahkan kepada Ketua Taman Wisata Tebing Breksi, Kholiq Widiyanto.

“Ini perayaan terbesar selama Tebing Breksi beroperasi. Alhamdulillah, seluruh warga ikut mendukung,” ujar Kholiq dengan mata berbinar.

Baca Juga: Jadwal Event Lengkap Garebeg Besar 2025 Keraton Yogyakarta, Ini Tanggal dan Rute Kirab Bregada

Sebanyak 178 tumpeng lengkap dengan ingkung disajikan dalam tradisi kembul bujono, makan bersama sebagai simbol rasa syukur dan solidaritas masyarakat. Malam puncak ditutup dengan pagelaran wayang kulit semalam suntuk, lakon “Semar Mbangun Khayangan” oleh dalang Ki Anom Sucondro—pertunjukan yang sarat makna filosofis dan spiritual.

Warisan Kolaborasi, Harapan Masa Depan

Bagi masyarakat dan pengelola, perayaan ini bukan titik akhir, melainkan pijakan untuk masa depan yang lebih cerah. Kholiq Widiyanto berharap semangat gotong royong dan kebersamaan yang selama ini menjadi fondasi keberhasilan Tebing Breksi akan terus dirawat.

“Semoga ke depan kami bisa terus memelihara semangat kebersamaan, sehingga harapan para sesepuh tadi bisa terwujud,” katanya penuh optimisme.

Tebing Breksi kini menjadi simbol kekuatan komunitas, kolaborasi, dan ketekunan dalam membangun masa depan dari sisa-sisa masa lalu. Ia adalah bukti bahwa tempat yang dulu dianggap tak bernilai, dapat berubah menjadi pusat inspirasi dan kebanggaan. []

Related posts