Dimas Diajeng Yogyakarta Tak Cukup Tampil Menawan, Harus Jadi Duta Budaya yang Hidup

  • Whatsapp
dimas diajeng jogja
Pembekalan bertajuk “Dari Paguyuban ke Pangabdian” bersama GKBRAA Paku Alam (Ist)

BacaJogja — Menjadi Dimas dan Diajeng Yogyakarta bukan sekadar mengenakan busana tradisional dan tersenyum di depan kamera. Lebih dari itu, peran mereka adalah menghidupkan budaya, menjadi jembatan makna, dan wajah baru kebudayaan Yogyakarta yang dinamis dan relevan dengan zaman.

Dalam sesi pembekalan bertajuk “Dari Paguyuban ke Pangabdian” bersama GKBRAA Paku Alam di Hotel SM Tower Malioboro, Kamis (12/6), sebanyak 30 finalis Dimas dan Diajeng Kota Yogyakarta mendapatkan pesan mendalam dari Gusti Putri.

Read More

“Dimas Diajeng bukan hanya menyambut tamu, tetapi menyambung makna. Budaya bukan hanya untuk dipajang, tetapi untuk dihidupkan,” tegas Gusti Putri dalam pemaparannya.

Baca Juga: Strawberry Moon 2025: Fenomena Bulan Purnama Paling Rendah Sejak 2006

Menurut Gusti Putri, Dimas Diajeng tidak cukup hanya fasih dalam pidato atau tampil anggun dalam upacara. Mereka harus menjadi representasi nilai-nilai budaya, membawa pesan kebaikan, serta menjadi bagian dari gerakan sosial dan kebudayaan yang bermakna.

“Ketika kita berbicara tentang Yogyakarta, maka kita tidak sedang membahas sekadar kota dengan bangunan bersejarah. Kita sedang membicarakan tingkah laku, darah hidup, dan falsafah,” ujar Gusti Putri.

Dalam kesempatan itu, Gusti Putri juga menekankan pentingnya karakter pemuda ideal yang digambarkan dalam filosofi Jawa: Sawiji, Greget, Sengguh, lan Ora Mingkuh.

  • Sawiji: Kesatuan pikiran dan hati yang melahirkan integritas dan fokus.
  • Greget: Semangat hidup yang konsisten dan menggelora.
  • Sengguh: Rasa percaya diri yang disertai kerendahan hati.
  • Ora Mingkuh: Keteguhan hati dan pantang menyerah.

Baca Juga: Shareent, Anak Penjual Bubur Ini Tembus UGM Tanpa Tes dan Kuliah Gratis!

Empat nilai ini diyakini sebagai fondasi utama dalam membentuk Dimas Diajeng yang tidak hanya mumpuni secara penampilan, tetapi juga matang secara pemikiran dan sikap.

Tak hanya menjadi ikon lokal, Gusti Putri menyampaikan harapan agar Dimas Diajeng mampu membangun jejaring kepemudaan yang berdampak di tingkat nasional hingga global. Di tengah arus globalisasi, peran mereka sebagai duta budaya menjadi semakin strategis.

Baca Juga: Guru Besar UGM Kupas Tiga Jenis Masuk Angin dalam Budaya Jawa: Dari Gejala Ringan hingga Kasep

“Di tengah generasi yang haus makna, Dimas Diajeng menjadi titik temu antara tradisi dan masa depan. Kalian bisa menjadi jembatan antarbudaya, antarwilayah, bahkan antarbangsa, selama nilai-nilai yang kalian pegang tetap teguh,” imbuhnya.

Menutup sesi pembekalan, Gusti Putri menegaskan bahwa Jogja menitipkan harapan masa depan pada generasi ini. Dimas Diajeng bukan hanya wajah budaya, melainkan motor perubahan yang berakar pada tradisi, bergerak dengan semangat kolaborasi, dan mengarah pada visi global. []

Related posts