Menelusuri Jejak Persyarikatan Islam Modern di Museum Muhammadiyah Yogyakarta

  • Whatsapp
museum muhammadiyah
Museum Muhammadiyah (Ist)

BacaJogja – Di balik tembok kampus Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Kampus IV, tersimpan sebuah ruang yang merekam jejak panjang perjuangan Muhammadiyah dalam membangun Indonesia. Museum Muhammadiyah, yang terletak di Tamanan, Banguntapan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, menjadi destinasi wisata edukatif yang wajib dikunjungi bagi siapa saja yang ingin mengenal lebih dekat salah satu organisasi Islam terbesar di Tanah Air.

Museum ini diresmikan pada 14 November 2022 dan terbuka untuk umum, tidak hanya bagi warga Muhammadiyah, tetapi juga pelajar, mahasiswa, hingga wisatawan mancanegara yang tertarik menelusuri kontribusi organisasi yang didirikan KH. Ahmad Dahlan pada 1912 di Kauman, Yogyakarta.

Read More

Baca Juga: Prangko Bergambar Raja Yogyakarta: Cara Pos Indonesia Menghormati Sri Sultan Hamengku Buwono X

Begitu memasuki area museum, pengunjung akan disambut oleh diorama interaktif, koleksi arsip penting, benda bersejarah, hingga tayangan video edukatif yang menggambarkan kiprah Muhammadiyah di berbagai bidang: pendidikan, kesehatan, sosial, dan dakwah. Tak hanya menyajikan data sejarah, museum ini juga menyentuh sisi emosional pengunjung dengan penataan ruang yang modern dan narasi yang menyentuh.

Museum Muhammadiyah Yogyakarta
Museum Muhammadiyah Yogyakarta (Ist)

Salah satu titik yang mencuri perhatian adalah peta besar persebaran amal usaha Muhammadiyah di seluruh Indonesia — dari sekolah dasar hingga universitas, dari rumah sakit hingga panti asuhan. Peta ini menggambarkan luasnya jaringan kontribusi Muhammadiyah dalam mencerdaskan dan menyejahterakan bangsa.

Museum ini buka setiap hari kerja, mulai pukul 09.00 hingga 16.00 WIB. Untuk kunjungan rombongan atau studi edukatif, tersedia layanan pemandu yang siap menjelaskan tiap koleksi dan konteks historisnya.

Baca Juga: Misteri Perahu “Barokah Mitabu” Patah Terdampar di Parangtritis, Tanpa Penumpang dan Tanda Korban

Rafi (13), siswa SMP Muhammadiyah asal Dieng yang berkunjung bersama sekolahnya, tak bisa menyembunyikan kekagumannya. “Senang banget bisa ke sini. Ternyata Muhammadiyah punya sejarah yang panjang dan pengaruhnya besar di Indonesia. Banyak yang baru saya tahu setelah lihat diorama dan video di dalam museum ini. Jadi makin bangga sekolah di Muhammadiyah,” ujarnya penuh semangat.

Lebih dari sekadar tempat menyimpan sejarah, Museum Muhammadiyah adalah ruang refleksi tentang bagaimana peran umat dan organisasi Islam dapat menjadi motor penggerak perubahan sosial yang progresif. Kunjungan ke sini menjadi pengalaman yang bukan hanya memperluas wawasan, tapi juga memperdalam semangat kebangsaan. []

Related posts