BacaJogja – Sore yang biasanya tenang di kawasan Taman Budaya Embung Giwangan mendadak riuh penuh gelak tawa dan tepuk tangan. Di bawah langit yang mulai temaram, masyarakat dari berbagai kalangan berkumpul, duduk rapi di amphitheater terbuka. Mereka bukan sekadar menonton pertunjukan seni. Mereka diajak larut dalam sebuah perayaan kebudayaan yang hangat dan menghibur: Jogja Culture Show.
Selasa (24/6/2025), Jogja Culture Show kembali digelar. Acara ini merupakan inisiatif Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta untuk menghadirkan cerita-cerita rakyat dalam balutan pertunjukan seni yang segar, jenaka, dan penuh kejutan. Tidak hanya menampilkan narasi tradisional, tetapi juga menyuntikkan kehidupan baru ke dalam kisah lama—mengubah legenda menjadi pengalaman yang bisa dirasakan bersama.
Salah satu yang paling menyita perhatian malam itu adalah pertunjukan Kenesan, sebuah penampilan teatrikal dan tari yang memadukan cerita rakyat Ande-Ande Lumut dengan humor kontemporer khas Yogyakarta. Uniknya, semua pemain Kenesan adalah pria, namun mereka dengan luwes memerankan karakter perempuan yang centil dan kemayu—mencari pasangan hidup di antara kerumunan penonton.
Baca Juga: Cinta Berujung Maut: Pria Bunuh Pacar di Bantul, Simpan Jasad hingga Jadi Kerangka
Lentik gerakan mereka berpadu dengan gaya bicara yang kocak membuat penonton terpingkal-pingkal. Momen puncaknya? Saat para pemain turun ke bangku penonton membawa setangkai bunga untuk memilih “pasangan”. Salah satu yang beruntung adalah Wakil Wali Kota Yogyakarta, Wawan Harmawan, yang diminta naik ke panggung dan menari bersama pemain Kenesan. Wawan tertawa lepas, bahkan sempat menyelaraskan langkah tari dengan gaya khas panggung.
“Acara yang diadakan di amphitheater ini sangat menghibur. Ini layak menjadi agenda rutin. Luar biasa, bisa mengajak para penonton ikut terlibat langsung,” ujar Wawan seusai pertunjukan.
Selain Wawan, terlihat pula Kapolresta Yogyakarta Kombes Pol Adhitya Surya Dharma dan Dandim 0734 Kolonel Inf Arif Setiyono turut menikmati pertunjukan. Masing-masing tak luput dari “incaran” para pemain Kenesan yang penuh kejutan.
Baca Juga: Senar Lukai Pengendara, Ini Lokasi Larangan Main Layangan di Yogyakarta
Namun Jogja Culture Show bukan hanya soal tawa. Di balik guyonan dan tarian, ada sebuah upaya besar untuk menjaga nyala budaya dan memberi ruang tampil bagi para seniman lokal. Kepala Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, Yetti Martanti, menjelaskan bahwa acara ini merupakan bagian dari kelanjutan pembinaan seni budaya yang melibatkan para sanggar dan komunitas lokal.
“Kami ingin masyarakat dan wisatawan punya alternatif pertunjukan reguler yang menarik. Kalau di Prambanan ada sendratari Ramayana, maka di sini kami hadirkan cerita rakyat yang dikemas lebih santai, lucu, dan segar,” terang Yetti.
Cerita rakyat lainnya, seperti Srandul yang diadaptasi menjadi pertunjukan Se Se Hokse, juga akan tampil dalam edisi-edisi berikutnya. Format atraktif, interaktif, dan jenaka menjadi ciri khas Jogja Culture Show—menciptakan panggung rakyat yang benar-benar “milik bersama”.
Baca Juga: Tragedi Pantai Watu Kodok Gunungkidul: Wisatawan Hilang Terseret Ombak Tinggi Saat Main Air
Lebih dari sekadar tontonan, acara ini menghadirkan rasa: rasa dekat dengan akar budaya, rasa lucu yang membebaskan, dan rasa hangat karena semua bisa ikut terlibat.
Saat malam mulai turun dan cahaya lampu panggung memudar, penonton pulang dengan senyum lebar. Jogja Culture Show bukan hanya menghibur—ia menyambung kembali benang-benang budaya yang lama terdiam, dan menjahitnya menjadi kisah baru yang layak dikenang. []






