BacaJogja – Pameran SciArt 8.0 yang digelar di Museum Benteng Vredeburg, Yogyakarta, menjadi ruang pertemuan unik antara sains dan seni rupa. Mengangkat tema besar “Potret Ilmuwan Indonesia”, acara ini memamerkan 29 tokoh penting dalam dunia ilmu pengetahuan tanah air, termasuk empat tokoh legendaris dari Universitas Gadjah Mada (UGM): Prof. Sardjito, Prof. Teuku Jacob, Prof. Sartono Kartodirdjo, dan Prof. Poerbatjaraka.
SciArt 8.0 merupakan kolaborasi antara Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi bersama Kementerian Kebudayaan dan Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI). Pameran ini tidak hanya menyajikan karya seni, tetapi juga menggugah kesadaran publik akan pentingnya mengenal para ilmuwan sebagai pahlawan peradaban.
Baca Juga: Polisi Viral Pungli ke Pemotor Wanita, Disanksi Guling-Guling di Aspal dan Ditahan 30 Hari
Ilmuwan UGM, Jejak Abadi dalam Ilmu dan Bangsa
- Prof. Sardjito, Rektor pertama UGM dan Guru Besar Kedokteran, dikenal sebagai ilmuwan pejuang. Ia menciptakan vaksin untuk tifus dan kolera, meracik obat batu ginjal, mendirikan rumah sakit militer darurat, serta membuat Biskuit Sardjito bagi para pejuang kemerdekaan. Ia juga menjadi salah satu pendiri Palang Merah Indonesia (PMI).
- Prof. Teuku Jacob, Rektor UGM (1981–1986), merupakan pakar antropologi ragawi yang berjasa besar dalam penemuan fosil Homo erectus di Sangiran dan Homo floresiensis di Flores. Temuan tersebut menempatkan Indonesia sebagai pusat penting dalam studi manusia purba dunia.
- Prof. Sartono Kartodirdjo, sejarawan ternama dan Guru Besar Fakultas Sastra UGM, merevolusi pendekatan historiografi dengan menulis sejarah dari sudut pandang rakyat kecil. Karyanya, The Peasant Revolt of Banten in 1888, menjadi tonggak penting dalam studi sejarah sosial Indonesia.
- Prof. Poerbatjaraka, filolog dan sastrawan Jawa, menjadi pionir dalam pengembangan studi naskah Nusantara. Ia dikenal karena dedikasinya dalam merawat warisan budaya lokal melalui pendekatan ilmiah modern, menjembatani tradisi dengan akademik.
Baca Juga: Grebeg Suro IKG 2025: Ribuan Warga Gunungkidul Rayakan Tradisi Jawa-Islam di Perantauan
Pentingnya Jembatan antara Sains dan Publik
Dekan FMIPA UGM, Prof. Kuwat Triyana, menyoroti tantangan dalam mengkomunikasikan sains ke masyarakat. Menurutnya, ilmu pengetahuan terlalu sering dibungkus dalam bahasa yang rumit, membuat publik kesulitan memahami pentingnya riset ilmiah. Ia menegaskan perlunya komunikator sains bersertifikasi sebagaimana telah dilakukan di Perancis.
Ahli sejarah dari Monash University, Luthfi Adam, menyebut bahwa sudah saatnya ilmuwan dikenalkan sebagai pahlawan bangsa. “Sejarah bukan hanya milik mereka yang mengangkat senjata, tapi juga para peneliti,” ujarnya.
Senada, Staf Khusus Kemendikbudristek, Ezki Tri Rezeki Widianti, melihat pameran ini sebagai medium potensial untuk menyampaikan sains dalam bahasa yang lebih populer.
Rektor Universitas Islam Indonesia, Prof. Fathul Wahid, menilai acara ini sebagai sinyal kuat bahwa sains tidak boleh dilupakan. “Kita butuh momen seperti ini untuk menghidupkan kembali semangat ilmiah di masyarakat,” ungkapnya.
Baca Juga: Yogyakarta Resmi Terapkan QRIS Parkir Pinggir Jalan, Ini Daftar Lokasinya
Seni Rupa sebagai Medium Sains
Ke-29 lukisan ilmuwan dalam SciArt 8.0 merupakan karya perupa Paul Hendro. Ia menyatakan bahwa selama ini pelukis lebih sering menggambarkan pahlawan perang, bukan tokoh sains. Melalui pameran ini, Paul ingin menyambungkan dunia ilmiah dengan seni visual agar masyarakat lebih akrab dengan wajah-wajah peneliti yang berjasa.
Pameran SciArt 8.0 berlangsung mulai 24 hingga 29 Juni 2025 di Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta. Selain menyuguhkan seni rupa, acara ini menjadi ruang reflektif akan pentingnya peran ilmuwan dalam membentuk masa depan bangsa. []






