BacaJogja – Ikatan Keluarga Gunungkidul (IKG) kembali menggelar Grebeg Suro 2025, perayaan sakral yang memadukan nilai-nilai budaya Jawa dan ajaran Islam. Acara yang berlangsung pada Kamis, 26 Juni 2025 di CBD Ciledug Family Mall, Tangerang ini menjadi ruang pertemuan ribuan warga Gunungkidul di Jabodetabek untuk meneguhkan persatuan, melestarikan warisan leluhur, sekaligus mengungkapkan rasa syukur memasuki Tahun Baru Jawa 1 Suro atau 1 Muharram 1447 Hijriah.
Sejak berdiri pada 12 Desember 1970, IKG menjadi organisasi diaspora terbesar Daerah Istimewa Yogyakarta, menaungi lebih dari 300 ribu warga Gunungkidul di wilayah Jabodetabek. Dalam sambutannya, Ketua Umum IKG Drs. Eddy Sukirman, MM menegaskan Grebeg Suro bukan sekadar ritual tahunan, melainkan momentum memperkuat semangat guyub rukun dan kolaborasi lintas generasi.
“Momen 1 Suro ini saya harapkan menjadi spirit bagi kita semua untuk selalu tawakal, taat pada agama, lingkungan, dan adat. Apapun tantangan di depan, kita hadapi dengan kebaikan yang menjadi ciri masyarakat Gunungkidul,” ungkap Eddy Sukirman.
Baca Juga: Kisah Putri, Anak Penjual Asongan Keliling di Bantul Tembus UGM
Grebeg Suro 2025 diwarnai rangkaian kegiatan, mulai dari gelar UMKM yang menghadirkan lebih dari 50 pelaku usaha kuliner dan kerajinan khas Gunungkidul, santunan sosial, kirab budaya, hingga puncaknya pagelaran wayang kulit semalam suntuk oleh Ki Gilang Thomas Kumoro. Pertunjukan wayang mengangkat lakon Semar Boyong, yang sarat pesan tentang kebijaksanaan dan persatuan menghadapi cobaan bersama.
Ketua Panitia Grebeg 1 Suro, Suyanto, menjelaskan lakon Semar Boyong dipilih karena relevan dengan kondisi masyarakat yang terus diuji berbagai tantangan.
“Semar Boyong menggambarkan ikhtiar mencari keselamatan dan kebahagiaan lewat kebijaksanaan dan kesederhanaan. Tiga kerajaan yang dilanda pagebluk berusaha bersama membawa Semar karena percaya hanya persatuan yang mampu mengusir bencana,” jelas Suyanto.
Baca Juga: Seni Menyatukan Dua Bangsa: Best Guruhi Uzbekistan Memukau Yogyakarta Lewat Tari dan Musik
Selain itu, Grebeg Suro kali ini juga dirangkai dengan peluncuran Koperasi Jasa IKG dan Travel IKG, sebagai langkah konkret pemberdayaan ekonomi warga Gunungkidul di perantauan. Dukungan penuh datang dari berbagai pihak, mulai Badan Penghubung Daerah (Banhubda) DIY, Pemerintah Kota Tangerang, Pemerintah Provinsi Banten, hingga manajemen CBD Ciledug Family Mall.
Dalam kesempatan tersebut, Kepala Banhubda DIY Nugroho Ningsih, mewakili Pj Sekda DIY Aria Nugrahadi, menekankan Grebeg Suro memiliki makna spiritual mendalam bagi masyarakat Jawa.
“Grebeg Suro adalah ruang untuk berhenti sejenak dari hiruk pikuk dunia, menyelaraskan diri dengan nilai kebaikan, kesederhanaan, dan kerukunan,” ujarnya.
Grebeg Suro juga menjadi ajang penghargaan bagi wilayah yang aktif melestarikan tradisi. IKG Kapanewon Semin, Rongkop, Nglipar, dan IKG Korwil Tangerang Kota menerima apresiasi khusus atas partisipasi dan semangat guyub rukun mereka.
Baca Juga: Cinta Berujung Maut: Pria Bunuh Pacar di Bantul, Simpan Jasad hingga Jadi Kerangka
Humas IKG, Tarsih Ekaputra, menegaskan tradisi ini bukan hanya seremonial tahunan, tetapi upaya menjaga harmoni sosial dalam keseharian diaspora Gunungkidul di Jabodetabek.
“Kekuatan IKG ada pada ketulusan, kebersamaan, dan suasana adem ayem. Grebeg Suro adalah ikhtiar merawat kebhinekaan dan meruwat Indonesia lewat budaya luhur,” tegas Tarsih.
Dengan semangat yang terus menyala, Grebeg Suro IKG menjadi contoh nyata bagaimana tradisi, agama, dan nilai kebangsaan bisa berjalan beriringan, memperkuat ikatan di tanah rantau sekaligus memberi kontribusi positif bagi daerah asal. []






