BacaJogja – Tidak ada mimpi yang terlalu tinggi bagi mereka yang mau berjuang. Kalimat itu hidup nyata dalam kisah Putri Khasanah (18), remaja asal Bambanglipuro, Bantul, Yogyakarta, yang berhasil menembus Sekolah Vokasi UGM tanpa tes melalui jalur Seleksi Nasional Berbasis Prestasi (SNBP).
Putri, anak dari seorang penjual asongan keliling, tidak hanya diterima sebagai mahasiswa Teknologi Rekayasa Instrumentasi dan Kontrol, tapi juga mendapat beasiswa UKT Pendidikan Unggul Bersubsidi hingga 100 persen. “Rasanya seperti mimpi yang jadi kenyataan,” ucap Putri haru.
Putri adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Ayahnya, Adil (48), sehari-hari berkeliling menjajakan dagangan asongan dengan penghasilan tak menentu, hanya sekitar Rp 500 ribu per bulan. Ibunya adalah ibu rumah tangga. Ketika mendengar kabar sang anak diterima kuliah gratis di UGM, Adil tak kuasa menahan rasa syukur.
Baca Juga: Ketika Rumah Tak Lagi Aman: Luka Anak di Gunungkidul
Putri akan menjadi sarjana pertama dalam keluarganya, memecah lingkaran keterbatasan yang selama ini membatasi impian.
Namun prestasi ini bukan datang begitu saja. Sejak SMP, Putri telah menunjukkan ketekunan dan kecintaannya pada Matematika. Ia mulai menorehkan prestasi dari lomba Science GO tahun 2020 dengan medali perunggu, lalu terus aktif mengikuti olimpiade di berbagai tingkat.
Di masa SMA, ia mengantongi medali emas dari Pekan Olimpiade Sains Nasional 2023 serta menjadi semifinalis Olimpiade Matematika UIN Sunan Kalijaga. Semua diraih tanpa bimbingan belajar mahal, hanya berbekal tekad dan materi gratis dari internet. “YouTube dan latihan soal online jadi guru tambahan saya,” tuturnya.
Baca Juga: Menelusuri Jejak Persyarikatan Islam Modern di Museum Muhammadiyah Yogyakarta
Kini, Putri tengah menapaki jalan baru sebagai calon mahasiswa UGM. Ia bertekad untuk memanfaatkan peluang ini dengan sebaik mungkin, demi keluarga, demi masa depan. Cita-citanya: bekerja di PLN, dan mengangkat derajat orang tua yang telah berkorban untuknya. “Saya ingin membuat mereka bangga,” ucapnya dengan mata berkaca.
Putri adalah bukti bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bermimpi. Ia menjadi simbol harapan bagi banyak anak muda Indonesia: bahwa pendidikan tinggi bisa diraih siapa pun, asal ada tekad, kerja keras, dan doa yang tidak putus. []






