Bupati Gunungkidul: Bansos Dipakai untuk Rokok dan Skincare, Penerima Harus Dievaluasi

  • Whatsapp
ilustrasi bansos
Ilustrasi bansos (Ist)

BacaJogja Bupati Gunungkidul, Endah Subekti, melontarkan kritik tajam terhadap perilaku sebagian penerima bantuan sosial (bansos) yang dinilainya tidak bijak dalam memanfaatkan dana bantuan dari pemerintah. Ia menyayangkan banyaknya warga yang justru menggunakan bantuan untuk kebutuhan konsumtif, seperti membeli rokok dan produk perawatan wajah, alih-alih memperbaiki taraf hidup mereka.

“Selama hidupnya masih dibantu negara: mendapat beras, PKH, BLT, BPNT, BPJS, bahkan bantuan uang Rp300 ribu per bulan. Tapi suaminya malah merokok, habiskan Rp300 ribu untuk beli rokok, dan istrinya juga beli skincare,” ungkap Endah dalam pernyataannya baru-baru ini.

Read More

Bupati Endah menilai, kondisi tersebut menunjukkan perlunya evaluasi menyeluruh terhadap penyaluran bansos. Ia meminta perangkat desa, kader Program Keluarga Harapan (PKH), hingga Dinas Sosial agar lebih selektif dalam menentukan siapa yang layak menerima bantuan, terutama jika ditemukan penggunaan dana yang tidak sesuai dalam musyawarah dusun maupun musyawarah kalurahan.

Baca Juga: Siraman Agung 2025 di Kulon Progo: Kirab Pusaka hingga Jamasan, Tradisi Sakral Sarat Makna

“Kalau merubah nasib sendiri dengan hidup hemat saja tidak mau, prihatin saja tidak mau, menabung untuk membawa perubahan derajat hidupnya juga tidak mau, kenapa kita harus terus memikirkannya? Yang lebih membutuhkan masih banyak,” tegasnya.

Ajakan Revolusi Mental dan Hidup Produktif

Bupati Endah menekankan pentingnya revolusi mental dalam pemanfaatan bantuan sosial. Menurutnya, bantuan dari pemerintah seharusnya digunakan sebagai batu loncatan agar penerimanya bisa lebih mandiri secara ekonomi dan keluar dari jerat kemiskinan.

Baca Juga: Sultan Dukung Koperasi Merah Putih: Strategi Perkuat Ekonomi Desa di Yogyakarta

Ia pun mengajak seluruh masyarakat, khususnya penerima bantuan, untuk mengubah pola pikir konsumtif menjadi lebih hemat, bijak, dan produktif. Partisipasi aktif masyarakat dalam evaluasi bantuan juga dianggap krusial agar penyaluran bansos benar-benar tepat sasaran. “Mari merevolusi mental kita bersama-sama,” tutupnya.

Pernyataan ini menjadi pengingat bahwa program bantuan bukan hanya soal distribusi dana, tetapi juga perubahan sikap dan tanggung jawab bersama untuk menciptakan masyarakat yang lebih mandiri dan berdaya. []

Related posts