BacaJogja – Suasana hangat dan penuh kebersamaan menyelimuti Ruang Terbuka Hijau Publik (RTHP) Dipowinatan pada Minggu (18/8). Masyarakat setempat kembali menggelar tradisi budaya Merti Golong Gilig, sebuah pesta rakyat yang tak sekadar meriah, tetapi juga sarat makna kebersamaan. Tradisi tahunan ini menjadi simbol pemersatu masyarakat sekaligus ungkapan syukur warga Dipowinatan.
Wakil Wali Kota Yogyakarta, Wawan Harmawan, yang untuk pertama kalinya hadir dalam acara tersebut, tak bisa menyembunyikan kekagumannya. “Biasanya acara seperti ini menghadirkan UMKM yang menjual produk-produk, tapi di sini ternyata tidak butuh duit.
Sejak masuk ke kampung, kanan kiri warga sudah menawarkan makanan dan jajanan secara gratis. Ini benar-benar gotong royong sesuai program Segoro Amarto, Semangat Gotong Royong Agawe Majune Ngayogyokarto,” ungkapnya.
Baca Juga: Rebo Pungkasan 2025 di Wonokromo Bantul: Ini Jadwal, Rute Kirab, dan Penutupan Jalan
Menurut Wawan, semangat kebersamaan warga Dipowinatan patut menjadi contoh bagi kampung lain. “Semua warga antusias, bergembira bersama, dan makanannya enak-enak. Luar biasa. Kegiatan seperti ini perlu lebih diekspos luas,” tambahnya.
Ia pun berharap Dipowinatan dapat berkembang sebagai kampung percontohan di Kota Yogyakarta dengan kekuatan budaya, seni, dan gotong royong warganya.
Pesta Rakyat Penuh Simbol Persatuan
Acara dimulai dengan kirab pasukan Bregodo yang mengiringi gunungan berisi camilan. Sorak-sorai pecah ketika prosesi dilanjutkan dengan doa bersama, pengikatan sapu lidi sebagai simbol persatuan, penancapan bendera Merah Putih, hingga perebutan gunungan yang disambut riuh oleh masyarakat dari berbagai usia.
Baca Juga: Pemda DIY Berlakukan Bebas Denda Pajak Kendaraan hingga 31 Oktober 2025, Ada Cashback 50 Persen
Ketua Panitia Merti Golong Gilig, Mahadeva Wahyu Sugianto, menjelaskan bahwa tradisi ini berakar dari sejarah penyatuan dua kampung, Kintelan dan Numbal Anyer, yang kemudian menjadi Kampung Dipowinatan. “Semangat bersatu, golong gilig menjadi satu, terus kita uri-uri setiap tanggal 18 Agustus. Bagi-bagi makanan gratis ini adalah ungkapan suka cita warga dalam merayakan HUT RI sekaligus cara kami mempromosikan UMKM lokal,” ujarnya.
Simbol pengikatan sapu lidi dalam prosesi, lanjut Mahadeva, melambangkan persatuan. “Banyaknya warga diibaratkan lidi. Jika diikat jadi satu, akan lebih kuat. Demikian juga persatuan warga Dipowinatan,” jelasnya.
Identitas Budaya yang Terus Hidup
Tradisi Merti Golong Gilig tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga menjadi pengikat sosial yang memperkuat identitas budaya Yogyakarta. Wawan Harmawan menegaskan komitmen Pemkot untuk terus mendukung acara semacam ini.
Baca Juga: Jadwal dan Rute Upacara Adat Rebo Pungkasan 2025 di Wonokromo Bantul
“Selain mempererat ikatan warga, tradisi ini juga bisa menjadi daya tarik wisata budaya. Suasana natural dan guyub rukun di Dipowinatan adalah kekuatan yang patut dibanggakan,” tuturnya.
Sementara itu, Mahadeva berharap tradisi ini dapat terus berlangsung lintas generasi. “Harapan kami, kampung ini bisa gemah ripah lohjinawi, warganya selalu guyup rukun,” pungkasnya.
Merti Golong Gilig pun tak hanya menjadi ritual budaya, tetapi juga cerminan indahnya kebersamaan yang hidup di tengah masyarakat Yogyakarta. []






