BacaJogja – Pemerintah Kota Yogyakarta kembali menorehkan prestasi membanggakan. Dalam Rapat Koordinasi Pengendalian (Rakordal) Pembangunan Daerah Triwulan III Tahun Anggaran 2025 yang digelar di Kepatihan Pemda DIY, Selasa (30/10), Kota Yogyakarta berhasil mencatat capaian kinerja fisik sebesar 80,15 persen, tertinggi kedua di antara lima kabupaten/kota se-DIY.
Rapat koordinasi kali ini mengusung tema “Transformasi Pariwisata DIY untuk Mendukung Perekonomian Daerah”, menyoroti bagaimana sektor pariwisata menjadi lokomotif utama penggerak ekonomi daerah.
Kinerja Fisik On Track, Serapan Keuangan Perlu Dipercepat
Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo menyampaikan bahwa hingga Triwulan III tahun 2025, kinerja pembangunan fisik sudah berjalan sesuai target. Namun, penyerapan keuangan masih tertinggal sekitar lima persen dari target yang ditetapkan.
Baca Juga: Cuaca Ekstrem Yogyakarta Hari Ini: Rumah Rusak, Baliho Roboh, dan Pohon Tumbang Tutup Jalan
“Secara fisik capaian kita on the track, tetapi penyerapan keuangan memang masih tertinggal sekitar lima persen. Salah satu penyebabnya adalah adanya efisiensi dan pembatalan beberapa event nasional,” ujar Hasto.
Berdasarkan data, realisasi keuangan Kota Yogyakarta mencapai 60,94 persen dari target 80,97 persen. Meski begitu, Pemkot tetap optimistis dapat menuntaskan target pembangunan hingga akhir tahun.
Turis Mancanegara Menurun, Hasto Dorong Penambahan Atraksi Wisata
Hasto juga menyoroti tren penurunan jumlah wisatawan mancanegara dibandingkan tahun sebelumnya. Jika pada tahun lalu tercatat sekitar 400.000 wisatawan asing, tahun ini hanya sekitar 300.000.
“Wisatawan domestik masih stabil, tapi turis asing menurun. Maka kita perlu menambah atraksi wisata agar mereka tinggal lebih lama. Cukup sepuluh event besar yang dikurasi dengan baik, tapi berdampak internasional,” jelasnya.
Hasto menambahkan, reformasi pariwisata juga bisa dimulai dari hal-hal sederhana seperti menjaga kebersihan dan ketertiban. “Bahkan lomba kebersihan toilet bisa menjadi langkah awal menuju pariwisata yang lebih baik,” ujarnya.
Baca Juga: Transformasi Pariwisata DIY: Membangun Sistem Tangguh dan Berdaya Saing Global
Sri Sultan: Evaluasi adalah Roh Tata Kelola Pemerintahan
Dalam kesempatan yang sama, Gubernur DIY Sri Sultan Hamengkubuwono X memberikan apresiasi atas capaian tersebut. Namun, ia menegaskan pentingnya evaluasi sebagai “roh” dalam tata kelola pemerintahan.
“Capaian predikat tertinggi bukan alasan untuk berpuas diri. Raihan terendah pun bukan akhir dari usaha, melainkan lecutan untuk terus membenahi diri. Mari jadikan refleksi dan evaluasi sebagai roh dalam tata kelola pemerintahan yang baik,” ujar Sri Sultan.
Dalam acara tersebut, penghargaan juga diberikan kepada Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) sebagai pengguna anggaran dengan kinerja terbaik, serta SMKN 4 Yogyakarta yang meraih predikat baik.
Transformasi Pariwisata Berbasis Budaya dan Kearifan Lokal
Lebih lanjut, Sri Sultan menegaskan bahwa keunggulan utama pariwisata DIY terletak pada kekuatan budaya dan kearifan lokal.
“Keunggulan pariwisata DIY terletak pada wisata berbasis budaya. Ada Keraton, pusat-pusat budaya Jawa, Malioboro sebagai ikon wisata, serta Prambanan sebagai daya tarik dunia,” jelasnya.
Namun, Sri Sultan juga mengingatkan masih banyak tantangan yang harus dibenahi, mulai dari keterbatasan infrastruktur, pengelolaan sampah, hingga kemacetan di kawasan wisata utama.
“Transformasi pariwisata tidak hanya menambah destinasi baru, tetapi juga membangun sistem yang tangguh, ramah lingkungan, inklusif, dan berkelanjutan. Harus mengakomodasi kelompok rentan, berbasis budaya lokal, dan didukung ekosistem pariwisata yang kuat,” tambahnya.
Pemerintah daerah saat ini juga tengah menyiapkan Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Daerah (Riparda) periode baru 2026–2045, menggantikan dokumen sebelumnya yang berakhir tahun ini. Dokumen tersebut akan menjadi panduan strategis pengembangan pariwisata DIY yang berkelanjutan dan terintegrasi dengan ekonomi kreatif.
Capaian kinerja fisik tinggi yang diraih Kota Yogyakarta menjadi bukti komitmen pemerintah daerah dalam memperkuat tata kelola pembangunan. Melalui transformasi pariwisata yang inklusif dan berbasis budaya, DIY diharapkan mampu menghadirkan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan sekaligus menjaga jati diri sebagai kota budaya dan wisata dunia. []






