BacaJogja – Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X, menegaskan pentingnya penguatan keamanan berbasis warga atau people-centered security dalam menjaga harmoni sosial di DIY.
Hal itu disampaikan Sultan dalam Apel Besar Jaga Warga yang turut dihadiri Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, jajaran Polda DIY, serta perwakilan kelompok Jaga Warga dari seluruh DIY.
Dalam sambutannya, Sultan menegaskan bahwa konsep keamanan ideal bagi masyarakat Jawa telah lama tertanam dalam falsafah “Tata, Tentrem, Kerta, Raharja”. Menurutnya, keteraturan yang dijalankan dengan ketulusan akan melahirkan ketenteraman, memunculkan daya juang, dan pada akhirnya menghadirkan kesejahteraan lahir batin bagi masyarakat.
“Melalui Apel Besar Jaga Warga hari ini, kita merawat amanat besar itu: mengukuhkan Yogyakarta sebagai ruang hidup bersama, di mana manunggaling warga lan pamong menjadi kekuatan moral dalam menjaga ketenteraman,” ujar Sultan.
Baca Juga: Pemkot Yogyakarta Apresiasi 1001 Atlet Pelajar Berprestasi, Total Tali Asih Capai Rp1,8 Miliar
Paradigma Baru Keamanan: Berbasis Warga, Berbasis Empati
Raja Keraton Yogyakarta ini menilai bahwa keamanan modern tidak bisa hanya bergantung pada teknologi dan regulasi yang kaku, mengingat ancaman sosial kini semakin kompleks dan berlapis. Karena itu, ia mendorong munculnya paradigma baru: people-centered security, di mana masyarakat menjadi subjek sekaligus mitra strategis dalam menjaga keamanan.
“Ketika keamanan dijalin bersama warga, yang tumbuh bukan sekadar keteraturan, tetapi resiliensi sosial; bukan hanya kepatuhan, tetapi solidaritas,” tegasnya.
Sultan menekankan bahwa Polri dapat menjalankan prinsip “Tata, Titi, Tatas, Titis” sebagai pedoman kerja — mulai dari perencanaan komprehensif, implementasi yang cermat, penyelesaian menyeluruh, hingga hasil yang tepat sasaran dan bermanfaat bagi publik. Konsep ini, kata Sultan, akan berjalan selaras dengan nilai-nilai Catur Prasetya.
Peran Strategis Jaga Warga
Menurut Sultan, kelompok Jaga Warga kini menjadi jembatan budaya antara masyarakat dan aparat keamanan. Kehadiran mereka memastikan proses penjagaan ketenteraman tidak semata mengandalkan tindakan represif, melainkan bertumpu pada dialog, kohesi sosial, dan kearifan lokal. Ini sejalan dengan konsep keamanan semesta: tanggap, tangguh, tuntas.
Baca Juga: “Jembatan Kabanaran”: Nama Pemberian Sri Sultan HB X yang Menyimpan Jejak Perjuangan Mataram
Sultan juga menyinggung keberhasilan penanganan demonstrasi pada 29–30 Agustus, di mana Yogyakarta mampu melewati masa genting tanpa tindakan represif. “Kami menghormati para demonstran sebagai warga yang menyuarakan harapan. Empati terbukti lebih ampuh daripada ledakan energi,” ungkapnya.
Simbol itu, kata Sultan, terlihat dari lantunan Gending Raja Manggala yang mengiringi situasi panas tersebut sebagai wujud penghormatan kultural.
Rompi Jaga Warga: Simbol Keteduhan
Di hadapan Kapolri, Sri Sultan menyampaikan terima kasih atas dukungan 10.000 rompi Jaga Warga. Rompi tersebut dianggap sebagai simbol keteduhan dan pengayoman.
“Bagi saya, rompi itu adalah simbol bahwa garda keamanan hadir untuk ngayomi lan ngemong, bukan menakuti,” tutur Sultan.
Menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru, Sultan berharap Jaga Warga mampu menjaga harmoni sosial, menjadi sahabat masyarakat, serta mitra Polri dalam merawat keteduhan di tengah dinamika sosial.
Menjaga Yogyakarta Tetap Tentrem
Sultan menutup sambutannya dengan harapan bahwa sinergi antara Polri dan Jaga Warga akan mempertahankan Yogyakarta sebagai daerah yang aman dan sejahtera.
“Jika Polri bekerja dengan tata, titi, tatas, titis, dan Jaga Warga melangkah dengan tanggap, tangguh, tuntas, maka Yogyakarta akan senantiasa berada dalam suasana titi tentrem, karta raharja,” pungkasnya. []






