Sri Sultan Minta Masalah Parkir Diselesaikan Sebelum Malioboro Jadi Pedestrian 24 Jam

  • Whatsapp
malioboro 24 jam
Sri Sultan HB X menegaskan penerapan pedestrian Malioboro belum dapat dilakukan sebelum seluruh permasalahan, terutama ketersediaan parkir, terselesaikan. (Pemkot Jogja)

BacaJogja – Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X menegaskan bahwa penerapan penuh pedestrian atau larangan kendaraan bermotor di Malioboro tidak boleh dilakukan secara tergesa-gesa. Menurut Sultan, masih ada persoalan penting yang harus diselesaikan terlebih dahulu, terutama terkait ketersediaan dan penataan parkir bagi pengunjung Malioboro.

“Kalau belum bisa, apa yang harus kita kerjakan lebih dulu untuk mengurangi beban Malioboro agar bisa lebih baik. Dengan percobaan ini kita bisa mengambil manfaat sehingga pembahasan itu lebih realistis. Mampu tidak kita perbaiki kekurangan tempat parkir, misalnya,” ujar Sultan HB X.

Read More

Sultan menilai hasil uji coba pedestrian 24 jam pada 1–2 Desember 2025 telah memberikan gambaran persoalan yang muncul, mulai dari teknis mobilitas hingga dampaknya terhadap aktivitas wisata dan ekonomi. Karena itu, pemerintah akan mengidentifikasi secara detail kekurangan dan kebutuhan sebelum menetapkan langkah berikutnya.

Baca Juga: Yogyakarta Perluas Warung Mrantasi untuk Kendalikan Inflasi: Kini Total 85 Titik di Tiga Pasar

Identifikasi Masalah Mulai Jalan

Pemkot Yogyakarta kini menindaklanjuti arahan tersebut dengan menggelar identifikasi permasalahan hasil uji coba pedestrian. Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo menyampaikan bahwa pendekatan Sultan sangat bijak karena mengutamakan kondisi lapangan daripada memaksakan kebijakan sebelum semuanya siap.

“Ngarso Dalem sangat-sangat bijak memperhatikan kondisi di lapangan. Arahan beliau jelas: kita identifikasi dulu, tidak memaksakan,” kata Hasto usai rapat bersama jajaran Pemkot Yogyakarta dan Pemda DIY.

Hasto menegaskan identifikasi ini akan menjadi dasar perumusan strategi penerapan pedestrian ke depan — termasuk kemungkinan uji coba kembali bila diperlukan.

Penataan Parkir Jadi Pekerjaan Besar

Salah satu isu paling krusial adalah penataan parkir. Pemkot Yogyakarta kini tengah memetakan area yang dapat dijadikan lokasi parkir cadangan untuk menampung kendaraan wisatawan.

“Kita berpikir bagaimana mempersiapkan area, space yang bisa untuk parkir. Harus dipersiapkan jauh sebelumnya, mungkin ada lokasi yang bisa diakuisisi kemudian dipakai untuk relokasi,” tutur Hasto.

Baca Juga: Yogyakarta Kerahkan 500 Truk Kebut Pengosongan Depo Sampah 500 Ton Jelang Libur Nataru 2025

Ketandan menjadi salah satu titik yang dinilai potensial dikembangkan sebagai lahan parkir tambahan sekaligus kawasan Chinatown Yogyakarta. Selain itu, Sultan juga mendorong agar Terminal Giwangan kembali diaktifkan sebagai park and ride untuk mengurangi kepadatan kendaraan di Malioboro.

Uji coba pedestrian Malioboro dan penutupan akses Titik Nol Kilometer pekan lalu terbukti memberi dampak besar pada arus lalu lintas dan mobilitas warga. Karena itu, dalam acara besar seperti kegiatan KPK akhir pekan ini, akses Titik Nol tidak akan ditutup untuk bus, angkutan umum, becak, dan andong.

Langkah ini dilakukan untuk memastikan kegiatan wisata dan pergerakan masyarakat tetap berjalan normal sambil proses evaluasi dilakukan.

Penerapan Pedestrian Bertahap dan Terukur

Sri Sultan HB X kembali menegaskan bahwa penerapan pedestrian 24 jam Malioboro harus bertahap dan berbasis kesiapan, bukan target waktu. Artinya, penerapan penuh pedestrian belum tentu dilakukan tahun depan jika identifikasi menunjukkan kesiapan belum maksimal.

Persoalan lahan parkir, pengaturan lalu lintas, hingga mitigasi dampak sosial ekonomi semuanya harus diselesaikan lebih dulu — termasuk kemungkinan pemanfaatan lahan eks UPN di Ketandan atau penataan parkir di sirip-sirip jalan Malioboro. []

Related posts