Merayakan Seabad A.A. Navis: Menghidupkan Kembali Gagasan Sang Sastrawan Kritis

  • Whatsapp
seabad navis
Pembicara dalam diskusi satu abad A.A. Navis yang berlangsung di Rumah Budaya NDalem Natan, Kotagede, Yogyakarta. (Istimewa)

BacaJogja – Setelah sukses menggelar perayaan Seabad Pramoedya Ananta Toer, Toko Buku Natan bersama Program Magister Sastra UGM kembali menghadirkan perayaan serupa untuk mengenang satu abad A.A. Navis. Sastrawan besar tanah air ini dikenal lewat karya-karya kritisnya, terutama cerpen legendaris Robohnya Surau Kami. Acara yang berlangsung di Rumah Budaya NDalem Natan, Kotagede, Yogyakarta ini menjadi ajang bagi para pecinta sastra untuk mendiskusikan warisan intelektual dan karyanya.

Mengupas Pemikiran A.A. Navis

Dalam perhelatan ini, hadir beberapa tokoh sastra dan akademisi, di antaranya Dhianita Kusuma Pertiwi (penulis, kurator pameran A.A. Navis di Jakarta dan UNESCO, Paris), Prof. Dr. Aprinus Salam, M.Hum. (pakar sastra), serta Nasir Tamara, Ph.D. Acara semakin semarak dengan penampilan cello dari Lintang Pramudia Swara yang membawa nuansa reflektif bagi para peserta.

Read More

Baca Juga: Libur Lebaran di Jogja? Jangan Lupa Mampir ke Bazar Durian Nglanggeran 3-5 April 2025

Aprinus Salam dalam paparannya membandingkan sikap kritis A.A. Navis dan Pramoedya Ananta Toer. “Navis tidak pernah dipenjara, berbeda dengan Pramoedya yang harus mendekam di Pulau Buru belasan tahun. Bisa jadi, ini karena Navis lebih banyak mengkritik masyarakat, sedangkan Pramoedya mengkritik pemerintah Orde Baru,” ungkapnya. Diskusi ini membuka wawasan tentang bagaimana sastra dapat menjadi alat kritik sosial yang tajam namun tetap memiliki caranya sendiri dalam menyampaikan pesan.

Peluncuran Buku dan Tantangan Sastra Indonesia

Salah satu agenda utama dalam perayaan ini adalah peluncuran buku Kesalahan dan Kejahatan dalam Berbahasa karya Aprinus Salam. Buku ini menyoroti lemahnya perhatian terhadap bahasa Indonesia, khususnya dalam menjaga kualitas dan penggunaannya. Aprinus menyoroti bagaimana negara-negara seperti Prancis memiliki Académie Française untuk menjaga bahasa mereka, sedangkan di Indonesia, hal semacam ini masih kurang diperhatikan.

Sementara itu, Nasir Tamara mengusulkan agar Kementerian Kebudayaan RI memberikan pendampingan kepada para penulis Indonesia yang berpotensi meraih Hadiah Nobel Sastra. “Dukungan pemerintah sangat penting agar sastra Indonesia bisa lebih dikenal dunia,” ujarnya.

Baca Juga: Rangkaian Hajad Dalem Idulfitri 2025 Keraton Yogyakarta: Tradisi Sakral dan Wisata Budaya

Menelusuri Jejak A.A. Navis

Dalam sesi lain, Dhianita Kusuma Pertiwi memaparkan proses risetnya dalam menyiapkan pameran 100 tahun A.A. Navis. Salah satu temuan menarik adalah bagaimana Navis semasa sekolah di INS Kayutanam tidak hanya mempelajari sastra, tetapi juga musik dan seni rupa. Ia menguasai flute serta belajar membuat patung, yang menunjukkan bahwa pendidikan seni turut membentuk pola pikirnya sebagai penulis.

Menurut Dhianita, tantangan utama dalam penyelenggaraan pameran adalah menghidupkan kembali warisan Navis agar menarik bagi generasi muda. “Kami ingin agar arsip dan tulisan-tulisannya tidak sekadar menjadi dokumen mati, tetapi bisa dinarasikan dengan baik dalam konteks historis dan pemikiran yang tetap relevan hingga kini,” jelasnya.

Baca Juga: 181.425 Kursi SNBP 2025 Telah Terisi: UGM Terima 2.783 Mahasiswa Baru

Sastra, Seni, dan Kebersamaan

Setelah sesi diskusi, acara dilanjutkan dengan pembacaan puisi oleh penyair Afnan Malay yang membawakan karya terbarunya berjudul Babi. Nasir Tamara pun turut serta dengan membacakan Gurindam 12 karya klasik Raja Ali Haji yang penuh pesan moral.

Sebagai bagian dari perayaan, dipamerkan pula 11 lukisan para pemikir dan penulis Minangkabau yang memberikan kontribusi besar bagi keindonesiaan. Di antaranya adalah Bung Hatta, Sutan Sjahrir, H. Agus Salim, dan Tan Malaka.

Acara ditutup dengan suasana keakraban melalui sesi berbuka puasa dan takjil bersama. Perayaan Seabad A.A. Navis bukan hanya menjadi momen refleksi atas warisan sastra Indonesia, tetapi juga ajang untuk mempererat persaudaraan dalam dunia literasi dan kebudayaan.[]

Related posts