BacaJogja – Embung Grigak, yang terletak di Padukuhan Karang, Kalurahan Girikarto, Kapanewon Panggang, Kabupaten Gunungkidul, menjadi salah satu destinasi unik dan inspiratif di Indonesia.
Berbeda dari embung pada umumnya, Embung Grigak merupakan satu-satunya waduk buatan yang berada sangat dekat dengan tepi Samudera Hindia, hanya sekitar 30–40 meter dari bibir pantai.
Dibangun sebagai solusi krisis air di kawasan tandus selatan Yogyakarta, embung ini berfungsi utama sebagai penampungan air hujan. Dengan luas sekitar 4.000 meter persegi dan kapasitas hingga 10 juta liter air,
Embung Grigak mampu mengairi lahan pertanian seluas 20 hektare dan mendukung budidaya sekitar 5.000 tanaman buah di lahan seluas 30 hektare. Ini menjadikannya sebagai tulang punggung pertanian berkelanjutan bagi masyarakat setempat.
Baca Juga: Jelajah Budaya di Yogyakarta: Rangkaian Event Spektakuler April 2025
Tak hanya berfungsi sebagai infrastruktur vital pertanian, Embung Grigak kini juga menjelma menjadi destinasi wisata baru yang menawarkan panorama laut lepas dari ketinggian. Perpaduan antara hijaunya perkebunan dan birunya samudera menciptakan lanskap yang memukau dan sangat Instagramable.
Proyek ini merupakan hasil kolaborasi antara Yayasan Obor Tani, Coca-Cola Foundation Indonesia, dan komunitas lokal Eco-Camp Mangun Karsa. Selain mengatasi persoalan air, pembangunan embung ini juga membuka peluang ekonomi baru melalui sektor pariwisata dan agrowisata yang ramah lingkungan.
Bagi wisatawan, Embung Grigak dapat dicapai dalam waktu sekitar dua jam perjalanan dari Kota Yogyakarta melalui jalur Imogiri–Panggang. Sesampainya di Kecamatan Panggang, perjalanan dilanjutkan ke Padukuhan Karang di Kalurahan Girikarto. Meskipun fasilitas masih dalam pengembangan dan informasi tiket masuk belum tersedia resmi, pengunjung disarankan membawa perlengkapan pribadi serta air minum.
Baca Juga: 6 Fakta Menarik Pertemuan Wamenaker Noel dan Habib Rizieq di Markas FPI Petamburan
Embung Grigak adalah bukti nyata bahwa inovasi lokal dapat membawa dampak besar, baik dari sisi lingkungan, ekonomi, maupun sosial. Destinasi ini berpotensi menjadi ikon baru wisata edukatif dan alam di Kabupaten Gunungkidul. []






