BacaJogja – Pemerintah Kota Yogyakarta resmi memulai program penataan kawasan permukiman kumuh Kampung Lampion, RT 18 RW 04 Kelurahan Kotabaru, Gondokusuman. Program ini diharapkan menghadirkan hunian yang lebih layak, sehat, dan aman bagi warga sekaligus mempercantik wajah kota di tepi Sungai Code.
Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, menegaskan pentingnya reposisi rumah-rumah warga agar kawasan tersebut menjadi lingkungan yang lebih manusiawi. Hal ini ia sampaikan saat membuka kegiatan Kick Off Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Tahun Anggaran 2025, Kamis (3/7).
“Rumah-rumah ini harus mundur, naik, dan menghadap sungai. Jadi Sungai Code menjadi bagian wajah kampung, bukan lagi pembuangan sampah atau tempat belakang rumah,” tegas Hasto.
Baca Juga: PLN Pastikan Tarif Listrik Tak Naik hingga September 2025, Cek Daftar Harganya
Ia mengungkapkan, kondisi padat dan sempit Kampung Lampion membuat akses darurat sangat terbatas. Jika ada warga sakit, ambulans tak bisa menjangkau lokasi. Begitu pula saat terjadi kebakaran, mobil pemadam tak bisa masuk karena tidak adanya jalan inspeksi di pinggir sungai.
“Kampung Lampion tepi Sungai Code saat ini masih berdesakan dan membelakangi sungai. Ini harus segera ditata supaya akses jalan bisa dibuat dan kawasan menjadi bersih, tertata, serta aman bagi semua,” lanjutnya.
Sebagai langkah awal, Pemkot Yogyakarta akan membongkar 10 unit rumah warga untuk dibangun kembali dengan desain yang lebih layak. Sebanyak enam rumah dibiayai melalui APBD Kota Yogyakarta Tahun Anggaran 2025 dengan nilai sekitar Rp1 miliar. Sementara empat rumah lainnya dibangun melalui dukungan SPARC India dan Yayasan SPEAK Indonesia lewat program Roof Over Our Head (ROOH) senilai Rp580 juta.
“Secara keseluruhan, 33 rumah ditargetkan untuk dibangun ulang,” jelas Kepala Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) Kota Yogyakarta, Umi Akhsanti.
Baca Juga: Lomba Unik di Malioboro: Pungut Puntung Rokok, Dapat Hadiah Rp1 Juta
Ia menuturkan, desain kawasan disusun bersama Universitas Islam Indonesia (UII) dan Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW). Rumah satu lantai akan dibangun kembali dengan konstruksi siap dikembangkan menjadi dua lantai. Sementara rumah dua lantai akan dikembalikan sesuai aslinya.
“Kalau suatu saat pemilik rumah punya rezeki, bisa langsung membangun lantai dua tanpa bongkar ulang,” terangnya.
Penataan kawasan juga mencakup pembangunan jalan inspeksi selebar tiga meter di sepanjang sungai. Jalan ini akan tersambung dengan Jembatan Kleringan dan terhubung ke arah Romo Mangun melalui lahan di belakang Masjid Syuhada. Selain itu, infrastruktur pendukung seperti drainase, jaringan air minum, pengelolaan air limbah, dan IPAL komunal akan dibangun agar kawasan lebih sehat dan nyaman.
“Mudah-mudahan pada 2026 jalan inspeksi sudah tersambung seluruhnya ke Romo Mangun. Penataan kawasan dan pembangunan rumah ini tidak berhenti di sini. Kami akan terus berkolaborasi dengan banyak pihak,” ucap Umi.
Program ini disambut dengan rasa syukur oleh warga. Salah satunya Surati, yang rumahnya termasuk dalam tahap awal penataan. “Rumah saya dibedah ini berkah dari Tuhan, melalui Bapak Wali Kota dan semua pihak. Saya sangat bersyukur,” ujarnya haru.
Baca Juga: Tol Jogja–Solo segmen Klaten–Prambanan Dibuka Gratis 2 Juli, Perjalanan Super Cepat
Ia berharap rumah barunya yang akan dibangun dua lantai nantinya cukup untuk menampung empat keluarga yang tinggal bersama.
“Selama proses pembangunan, saya ngontrak rumah sebelah dulu selama enam bulan. Semoga ke depannya rumah ini lebih layak dan nyaman,” imbuh Surati.
Penataan Kampung Lampion menjadi langkah nyata Pemerintah Kota Yogyakarta dalam meningkatkan kualitas hidup warga, mempercantik kawasan bantaran Sungai Code, serta mendukung Yogyakarta sebagai kota yang bersih, sehat, dan ramah lingkungan. []






