BacaJogja – Yogyakarta kembali membuktikan diri sebagai kota kreatif yang tak pernah kehabisan ide. Di tengah industri fashion yang sering menghasilkan limbah tekstil, para perajin lokal justru melihat potensi besar pada kain perca—potongan sisa yang biasanya hanya berakhir di tempat pembuangan.
Di tangan mereka, kain kecil itu naik kelas menjadi totebag unik, aksesori berkarakter, hingga kerajinan bernilai ekonomi tinggi.
Lebih membanggakan lagi, sebagian besar perajinnya merupakan penyandang disabilitas yang menunjukkan ketekunan, ketelitian, serta imajinasi yang kuat dalam setiap detail karya.
Apresiasi datang langsung dari Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, saat menghadiri Talkshow PKM Nasional bersama Komunitas Kain Perca di Pusat Desain Industri Nasional (PDIN) Yogyakarta, Sabtu (22/11).
Baca Juga: Pemda DIY Targetkan Kemiskinan Satu Digit di 2026, Program Prioritas Digenjot Akhir Tahun
“Kreativitas ini tidak hanya memecahkan masalah limbah tekstil, tetapi juga membangun ekonomi sirkular. Sebuah sistem ekonomi yang tidak boros, tidak membuang, tetapi mengolah, memberi nilai, dan menjaga Bumi,” ujar Hasto.
Ia menegaskan bahwa Yogyakarta harus terus tumbuh sebagai kota kreatif yang berdaya dan berkelanjutan. Melalui gerakan eco-craft, masyarakat bukan hanya menghasilkan produk, tetapi juga menyebarkan kesadaran akan gaya hidup ramah lingkungan. “Keberlanjutan bukan hanya tentang alam, tetapi juga tentang kesejahteraan sosial,”ungkapnya.
Baca Juga: Lomba Masak Serba Ikan Bantul Hadirkan Kudapan Tuna Anti-Mainstream untuk Cegah Stunting
Ekosistem Ekonomi Kreatif yang Inklusif
Hasto juga menilai inovasi komunitas kain perca sejalan dengan misi pemerintah memperkuat ekosistem ekonomi kreatif sekaligus mendorong pariwisata berbasis keberlanjutan. PDIN pun diharapkan menjadi ruang kolaborasi bagi generasi muda kreatif.
“Banyak orang kreatif di sini, dan kreativitas itu harus dikelola sebaik-baiknya,” tambahnya.
Menurutnya, karya kain perca memiliki potensi besar untuk berkembang menjadi ikon eco-craft Yogyakarta dan produk unggulan UMKM.
Pendiri Rumah Kreatif Jogja, Yenny Christin, menyampaikan bahwa program pengembangan kreatif berbasis kain perca ini sudah berjalan empat tahun. Tahun ini, sebanyak 15 peserta dari Kota Yogyakarta, Sleman, dan Bantul terlibat—dan semuanya merupakan penyandang disabilitas.
“Peserta disabilitas lebih tekun dan teliti. Hasilnya rapi, dan itu membuat saya bangga,” ujarnya.
Seluruh karya yang telah melalui proses kurasi nantinya akan dipamerkan dan dapat dipesan melalui Rumah Kreatif, yang turut membantu pemasaran produk para peserta.
Baca Juga: Pemuda Kulon Progo Jadi Korban TPPO di Kamboja, Dipaksa Jadi Scammer hingga Disetrum Setiap Salah
Mengubah Limbah Menjadi Kebanggaan
Yeni menjelaskan bahwa kain perca dapat disulap menjadi beragam produk kreatif:
- tempat hantaran,
- kursi,
- pakaian,
- kalung,
- hingga aksesori rumah tangga lainnya.
“Limbah fashion sangat besar, dan jika dibiarkan menjadi ancaman lingkungan hidup. Karena itu saya mengajak semua lebih peduli. Dari limbah, kita bisa menciptakan barang bernilai tinggi,” tegasnya.
Melalui gerakan ini, kain perca tak lagi sekadar sisa tak berguna. Di tangan para perajin disabilitas Yogyakarta, ia menjelma menjadi simbol kreativitas, keberlanjutan, sekaligus pemberdayaan sosial yang menginspirasi.
Gerakan kecil ini membuktikan bahwa masa depan industri kreatif Indonesia tidak hanya tentang estetika, tetapi juga tentang kepedulian—kepada lingkungan, sesama, dan masa depan bersama. []






