Dinas Kebudayaan DIY: Nama Jembatan Kabanaran Berdasar Spirit Sejarah, Bukan Penetapan Lokasi Sunan Kabanaran

  • Whatsapp
jembatan kabanaran
Jembatan Kabanaran yang menghubungkan Bantul dan Kulon Progo. (Pemda DIY)

BacaJogja  — Pemerintah Daerah DIY meluruskan pemahaman publik terkait penamaan Jembatan Kabanaran yang menghubungkan Bantul dan Kulon Progo. Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY menegaskan bahwa penamaan tersebut bukan merupakan penetapan lokasi sejarah penobatan Sunan Kabanaran, melainkan bentuk penghargaan terhadap spirit perjuangan Pangeran Mangkubumi.

Penegasan itu disampaikan Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Dian Lakshmi Pratiwi, melalui keterangan tertulis, Kamis (27/11). Ia meminta agar polemik mengenai dugaan lokasi Desa Kabanaran—yang dikaitkan dengan perjalanan gerilya Pangeran Mangkubumi sebelum Perjanjian Giyanti 1755—tidak diperuncing karena hingga kini belum ditemukan bukti historis yang pasti.

Read More

“Tidak ada satu sumber pun yang memiliki kepastian mengenai lokasi Desa Kabanaran tempat penobatan Sunan Kabanaran berada. Lima pustaka yang dirujuk pun memberi persepsi lokasi yang semuanya berbeda,” ujar Dian.

Baca Juga: STOP Penagihan Debt Collector Kasar: Ini Aturan Hukum yang Wajib Diketahui Semua Warga

Menurutnya, para ahli sejarah mencatat lokasi Kabanaran secara berbeda-beda. Sartono Kartodirdjo menyebut barat Kotagede, Raffles menuliskan sekitar 10 mil dari pantai selatan Yogyakarta, sedangkan Ricklefs menempatkan di barat Kota Yogyakarta saat ini. Keragaman lokasi tersebut menunjukkan bahwa secara ilmiah penetapan lokasi final belum memungkinkan.

“Yang justru tidak bisa diperdebatkan adalah nilai, makna, dan spirit sejarah dari tokoh Pangeran Mangkubumi sebagai Sunan Kabanaran,” tegasnya.

Makna kebahasaan dan filosofi penamaan

Secara kebahasaan, kata banar dalam Bausastra Jawa berarti longgar dan terang atau ruang luas dan terbuka. Dengan imbuhan ka–an, kabanaran bermakna tempat yang lapang, tanpa sekat, dan terbuka — selaras dengan fungsi jembatan sebagai infrastruktur yang memperluas akses, menghubungkan wilayah, dan menghilangkan batas fisik.

Dian menambahkan, pemilihan nama tersebut juga merupakan bentuk refleksi nilai persatuan, kesetiaan, dan kebersamaan, sesuai keteladanan Sunan Kabanaran. Nilai itu dinilai relevan untuk memperkuat identitas wilayah dan menumbuhkan rasa bangga masyarakat di Bantul dan Kulon Progo.

Baca Juga: UMKM Yogyakarta Tembus Pasar Internasional: Palem Craft Ekspor Home Decor 30.000 USD per Kontainer

Relevansi penamaan dan komunikasi publik

Selain aspek historis dan bahasa, jembatan tersebut berada dalam koridor pengembangan wilayah selatan DIY. Karena itu, penamaan dengan karakter lokal dianggap memperkuat branding kawasan sekaligus menjadi edukasi publik terkait sejarah perjuangan Pangeran Mangkubumi.

Sebelumnya, Koordinator Humas Pemda DIY, Ditya Nanaryo Aji, menjelaskan bahwa kesamaan nama wilayah Banaran di sisi barat jembatan menjadi salah satu pertimbangan komunikasi publik dalam penamaan. Namun ia menegaskan bahwa kesamaan nama tidak berarti pemerintah menetapkan lokasi peristiwa sejarah secara definitif.

“Informasi teknis dan historis yang kami terima menunjukkan relevansi nama tersebut dengan konteks wilayah. Itu yang kemudian menjadi dasar komunikasi publik,” jelas Ditya.

Dian berharap masyarakat dapat memaknai penamaan Jembatan Kabanaran sebagai pengingat akan nilai perjuangan, persatuan, dan kebersamaan — bukan sebagai penetapan lokasi sejarah. []

Related posts