BacaJogja – Penyakit tuberkulosis (TBC) masih menjadi ancaman kesehatan serius secara global. WHO memasukkan TBC sebagai salah satu dari tiga penyakit menular paling berbahaya bersama AIDS dan malaria. Indonesia sendiri berada di peringkat kedua dunia untuk jumlah kasus TBC terbanyak, tepat di bawah India.
Kondisi ini juga dirasakan di Kota Yogyakarta. Kasus TBC yang tercatat di berbagai fasilitas kesehatan meningkat signifikan pada 2025. Namun, fakta menarik sekaligus mengkhawatirkan muncul: mayoritas pasien ternyata bukan warga Kota Yogyakarta.
Jumlah Kasus Naik, Tapi Separuh Lebih Pasien Bukan Warga Kota
Epidemiolog Kesehatan Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, Setyo Gati Candra Dewi, mengungkapkan bahwa sejak Januari hingga 17 November 2025, tercatat 1.161 kasus TBC di seluruh fasyankes Kota Yogyakarta — mulai dari puskesmas, rumah sakit, hingga klinik.
Namun, dari jumlah tersebut hanya sekitar 50–60 persen yang benar-benar beralamat di Kota Yogyakarta. “Dari total 1.161 kasus, hanya sekitar 590 yang beralamat di Kota Yogyakarta. Setiap tahun biasanya hanya 50–60 persen yang benar-benar warga kota,” jelas Gati.
Lonjakan jumlah pasien TBC ini bahkan melebihi estimasi pusat yang memprediksi sekitar 1.034 kasus pada 2025.
Gati menyebut, tingginya mobilitas masyarakat menuju Yogyakarta untuk bekerja, sekolah, hingga pengobatan membuat fasilitas kesehatan di kota ini menjadi rujukan bagi warga luar daerah — sekaligus membuat angka notifikasi kasus meningkat.
“Kita harus tetap waspada karena TBC bisa menular di mana saja — kantor, sekolah, pasar, transportasi umum. Masker sangat penting,” tambahnya.
Kesembuhan Belum Capai Target Nasional
Sementara itu, Kepala Seksi Pencegahan Pengendalian Penyakit Menular dan Imunisasi Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, dr. Endang Sri Rahayu, menyoroti rendahnya tingkat kesembuhan pasien TBC. Target nasional adalah 90 persen, namun Kota Yogyakarta belum pernah mencapainya.
Baca Juga: Festival Anggrek Vanda Tricolor: Pelestarian Flora Merapi Identitas Ekologis Yogyakarta
Tahun lalu tingkat kesembuhan hanya 86 persen, dan tahun ini diperkirakan baru hampir 80 persen. “Belum pernah mencapai 90 persen. Padahal yang sudah diobati saja belum semuanya sembuh total, sehingga masih berpotensi menularkan,” tegas Endang.
Endang menjelaskan bahwa infeksi TBC mudah terjadi terutama pada kelompok rentan.
• Anak-anak: gizi buruk, stunting, berat badan rendah
• Dewasa: perokok, penderita diabetes (DM), HIV, gaya hidup tidak sehat
• Lingkungan: rumah lembab, minim ventilasi, kurang cahaya matahari
“Kuman TBC menyukai tempat lembab dan gelap. Rumah tidak layak huni sangat berisiko,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa vaksin BCG hanya berfungsi mencegah TBC berat pada bayi, bukan menutup kemungkinan penularan. “BCG bukan mencegah penularan, tapi mencegah TBC berat. Banyak masyarakat salah persepsi,” jelasnya.
Pengobatan Tidak Tuntas Picu Resisten Obat
Kasus TB Resisten Obat (TB RO) banyak terjadi akibat pasien berhenti minum obat sebelum pengobatan selesai. Padahal terapi TBC harus dilakukan minimal enam bulan tanpa putus.
“Ada yang merasa sehat lalu berhenti minum obat. Ada yang bosan, ada yang terkendala jarak ke fasilitas kesehatan. Ini yang memicu resistensi obat,” terang Endang.
Saat ini tenaga kesehatan menggunakan Tes Cepat Molekuler (TCM) untuk mendeteksi sejak awal apakah pasien sensitif atau resisten obat.
Dinas Kesehatan melakukan investigasi kontak pada setiap pasien yang ditemukan. Kontak erat diperiksa gejala TBC, sementara kontak sehat diberikan Terapi Pencegahan TBC (TPT). Tracing bahkan dilakukan hingga ke sekolah dan perkantoran.
Di tingkat layanan primer, edukasi tetap digencarkan. Programer TBC Puskesmas Umbulharjo II, Rini, menyebut saat ini terdapat empat pasien yang menjalani pengobatan di wilayahnya. “Edukasi GERMAS, gizi seimbang, dan disiplin pengobatan terus kami tekankan kepada pasien,” ucapnya. []






