BacaJogja – Curhatan seorang perantau asal Gunungkidul yang ingin pulang kampung dari Jakarta viral di media sosial. Ia mengaku lelah bekerja sebagai buruh pabrik dan mulai mempertimbangkan untuk mencari nafkah dengan menjadi pengemudi ojek online (ojol) di wilayah Yogyakarta.
Dalam unggahan yang beredar di Facebook, perantau tersebut secara terbuka meminta pendapat warganet terkait peluang pendapatan ojol di Jogja. Ia menanyakan apakah masih realistis menargetkan penghasilan sekitar Rp300 ribu per hari jika bekerja sebagai driver ojek online.
“Aku nduwe rencana pindah domisili saka Jakarta bali menyang Gunungkidul. Wis capek nguli neng pabrik. Rencanaku arep onbid ojol neng Jogja wae. Kira-kira iso oleh 300 ribuan saben dina ora?” tulisnya warganet di grup Facebook GOJEK SEPUTAR JOGJAKARTA.
Unggahan itu sontak menuai respons beragam dari warganet, terutama sesama driver ojek online di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta.
Peluang Ojol di Jogja: Antara Harapan dan Realita
Sebagian warganet menilai target Rp300 ribu per hari masih mungkin dicapai, terutama jika pengemudi memahami jam-jam sibuk dan lokasi strategis seperti kawasan kampus, pusat kuliner, hingga area wisata.
Namun, tak sedikit pula yang mengingatkan bahwa persaingan driver ojol di Jogja cukup ketat. Jumlah pengemudi yang banyak, order yang fluktuatif, serta kebijakan aplikasi dinilai membuat pendapatan tidak selalu stabil.
“Kalau narik full seharian, ngerti spot, dan rajin pindah titik, mungkin bisa. Tapi kalau santai, ya berat,” tulis salah satu komentar.
Ada juga yang menekankan pentingnya memperhitungkan biaya operasional seperti bensin, servis kendaraan, hingga potongan aplikasi sebelum menetapkan target pendapatan harian.
Pulang Kampung Jadi Pilihan Banyak Perantau
Fenomena perantau yang ingin kembali ke daerah asal bukan hal baru. Tekanan kerja di kota besar, biaya hidup yang tinggi, serta keinginan hidup lebih tenang kerap menjadi alasan utama.
Bagi sebagian orang, bekerja sebagai ojol di kota seperti Yogyakarta dianggap lebih fleksibel dibandingkan kerja pabrik. Meski penghasilan tidak selalu pasti, waktu kerja yang lebih bebas menjadi daya tarik tersendiri.
Curhatan ini pun membuka diskusi lebih luas tentang kondisi riil lapangan kerja informal, khususnya sektor transportasi online di wilayah Jogja dan sekitarnya.
Warganet Diajak Berdiskusi
Hingga kini, unggahan tersebut masih menuai komentar dan menjadi bahan diskusi hangat. Banyak warganet berharap para driver berpengalaman dapat berbagi cerita jujur agar perantau yang ingin pulang kampung bisa mengambil keputusan secara matang. []






