BacaJogja – Suhu udara yang lebih dingin dari biasanya menyelimuti sejumlah wilayah Indonesia, terutama Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara, sejak awal Juli 2025. Fenomena ini ramai diperbincangkan di media sosial dan banyak yang mengaitkannya dengan peristiwa Aphelion. Namun, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan bahwa suhu dingin ini bukan disebabkan oleh Aphelion, melainkan faktor-faktor meteorologis yang wajar terjadi pada musim kemarau.
Apa Itu Aphelion?
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Guswanto, menjelaskan bahwa Aphelion adalah kondisi tahunan ketika Bumi berada di titik terjauh dari Matahari dalam orbit elipsnya. Pada tahun ini, Aphelion terjadi pada 5 Juli 2025, dengan jarak sekitar 152 juta kilometer.
“Aphelion hanya berdampak kecil pada penurunan suhu karena jarak Bumi sedikit lebih jauh dari Matahari. Fenomena ini tidak berbahaya dan tidak berpengaruh signifikan terhadap iklim, cuaca ekstrem, maupun kesehatan manusia,” terang Guswanto.
Baca Juga: Polisi Gelar Operasi Patuh 2025 Serentak Mulai 14 Juli: Fokus Kendaraan ODOL
BMKG pun membantah klaim bahwa Aphelion menyebabkan batuk, flu, atau gangguan pernapasan. Menurut lembaga ini, gejala tersebut lebih terkait dengan daya tahan tubuh individu, bukan peristiwa astronomi.
Mengapa Udara Terasa Lebih Dingin?
BMKG menjelaskan, setidaknya ada tiga faktor utama yang menyebabkan udara lebih dingin selama beberapa hari terakhir:
- Musim Kemarau
Indonesia kini memasuki musim kemarau yang ditandai dengan dominasi angin timuran atau Monsoon Australia. Angin ini bersifat kering dan membawa massa udara dingin dari Australia menuju wilayah selatan khatulistiwa. - Langit Cerah Saat Malam
Kondisi langit yang minim awan pada malam hingga dini hari mempercepat proses pelepasan panas dari permukaan bumi ke atmosfer. Akibatnya, suhu permukaan turun lebih cepat sehingga udara terasa lebih dingin. - Hujan Sporadis
Meskipun kemarau, hujan yang terjadi secara sporadis turut membawa massa udara dingin dari awan ke permukaan, serta mengurangi intensitas pemanasan sinar matahari di siang hari.
Baca Juga: Terjun ke Jurang 50 Meter Gegara Google Maps, Sopir Xenia Selamat dari Maut di Kulon Progo
Fenomena udara dingin di Jawa dan Bali ini dikenal dengan istilah bediding, kondisi yang kerap muncul pada puncak musim kemarau, sekitar Juli hingga September.
Fenomena Embun Es di Dataran Tinggi
Di beberapa wilayah dataran tinggi, seperti Dieng, suhu pada malam hingga dini hari dapat turun drastis. Fenomena embun es atau embun upas berpotensi muncul akibat radiasi malam yang intens. Ini pun bukan sesuatu yang luar biasa dan sudah terjadi setiap musim kemarau.
BMKG mengimbau masyarakat agar tidak mudah terpengaruh informasi yang belum terverifikasi terkait cuaca ekstrem atau dampak kesehatan akibat Aphelion.
Baca Juga: Sabu 9,5 Kg dalam Tisu Basah Terbongkar di Bandara YIA, Kurir dan Pemantau Ditangkap
“Cuaca dingin yang terjadi adalah hal wajar pada musim kemarau. Kami mengimbau masyarakat selalu memantau informasi resmi melalui situs web www.bmkg.go.id, aplikasi Info BMKG, atau media sosial @infoBMKG,” jelas BMKG dalam keterangan resminya, Rabu (9/7/2025).
Artinya, fenomena Aphelion bukan penyebab utama turunnya suhu udara di Indonesia. Cuaca lebih dingin saat ini terutama dipengaruhi faktor musim kemarau, angin timuran, dan kondisi langit cerah. Masyarakat diimbau tetap waspada terhadap perubahan cuaca, menjaga kesehatan, dan mengandalkan informasi dari sumber resmi BMKG. []






