Inovasi Yogyakarta: Penggerobak Dapat Hadiah jika Bawa Sampah Terpilah Bebas Plastik

  • Whatsapp
pemilahan sampah jogja
Pemilahan sampah di Kota Yogyakarta. (Pemkot Jogja)

BacaJogja –  Pemerintah Kota Yogyakarta terus berinovasi dalam mengatasi persoalan sampah dengan memaksimalkan sistem pemilahan di tingkat hulu. Salah satu langkah strategis yang kini diuji coba adalah pemilahan sampah di empat depo utama, yakni Depo Mandala Krida, Lapangan Karang, THR Purawisata Jalan Brigjen Katamso, dan Depo Kotabaru di selatan Kantor RRI Yogyakarta.

Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, menyampaikan uji coba yang telah berjalan selama sepekan itu mencakup 21 kelurahan. Tujuannya adalah untuk menekan volume sampah yang dibawa ke Unit Pengelolaan Sampah (UPS).

Read More

“Dengan mengerahkan pemilah melalui program padat karya, kita ingin melihat sejauh mana efektivitasnya dalam mengurangi volume sampah,” ujar Hasto dalam Rapat Dinas di Balai Kota, Senin (21/7/2025).

Baca Juga: Operasi Patuh Progo 2025: 356 Pelanggaran di DIY, Dominan Tilang Manual dan STNK Mati

Salah satu inovasi menarik dilakukan di Depo Kotabaru. Di lokasi ini, Pemkot mulai mengedukasi para penggerobak untuk tidak membawa sampah plastik. Sebagai imbalannya, mereka diberikan reward jika sampah yang dikumpulkan bersih dari plastik.

“Sebanyak 15 penggerobak kita uji coba untuk tidak membawa selembar pun plastik ke depo. Ini bentuk apresiasi terhadap upaya mereka memilah sejak awal. Kombinasi pemilahan dari rumah, penggerobak, hingga depo ini diharapkan menekan volume sampah secara signifikan,” jelasnya.

Hasto mencontohkan keberhasilan pemilahan sampah berbasis rumah tangga di Kemantren Pakualaman. Jika sebelumnya wilayah tersebut menghasilkan 8 ton sampah per hari, kini turun drastis menjadi hanya 2,5 hingga 3 ton per hari.

Baca Juga: Bupati Gunungkidul: Bansos Dipakai untuk Rokok dan Skincare, Penerima Harus Dievaluasi

Senada dengan Hasto, Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Yogyakarta, Agus Tri Haryono, mengungkapkan bahwa produksi sampah harian di Kota Yogyakarta mencapai 250–260 ton. Sementara kapasitas pengolahan baru di kisaran 190–200 ton, sehingga diperlukan pengurangan sekitar 60–70 ton dari sumbernya.

“Strategi kami adalah pemilahan lanjutan di depo. Sampah residu akan dibawa ke UPS, sampah anorganik ke Bank Sampah Induk, dan sampah organik ke pihak offtaker. Hasil uji coba di Depo Mandala Krida, Lapangan Karang, dan THR Purawisata menunjukkan penurunan volume sampah ke UPS sebesar 0,7 hingga 1 ton per hari,” terang Agus.

Ia menambahkan, hasil lebih signifikan terlihat di Depo Kotabaru, di mana pemilahan oleh penggerobak mampu mengurangi sampah ke UPS hingga 1 sampai 1,3 ton per hari.

Agus juga menekankan pentingnya pemilahan di rumah tangga. Sampah anorganik bernilai ekonomis disalurkan melalui bank sampah unit di tiap RW atau mitra daur ulang. Sementara itu, sampah organik dikelola dengan metode komposting seperti ember tumpuk, losida, dan biopori.

Bagi yang tidak memiliki lahan pengolahan, sampah organik dibawa secara terpisah oleh penggerobak menggunakan kantong putih atau bening. “Pemilahan sejak dari rumah akan sangat membantu pengelolaan sampah kota secara menyeluruh,” tutupnya. []

Related posts