BacaJogja – Warga Cangkringan, Sleman, digemparkan dengan proses penjinakkan bom udara peninggalan Perang Dunia II pada Selasa (12/8/2025) siang. Lokasi peledakan di Kali Gendol, Cangkringan, dijaga ketat oleh pihak berwenang dan relawan, dengan radius 1 km dari titik kejadian steril dari aktivitas warga.
Sekitar pukul 11.53 WIB, terdengar satu kali ledakan keras dari proses awal penjinakkan. Beberapa ruas jalan menuju lokasi ditutup untuk memastikan keamanan.
Kemudian pada pukul 12.30 WIB, ledakan besar kembali terdengar. “Gleeerr…” suara dentuman bom menggema hingga radius 3–4 km, bahkan terasa getarannya di pemukiman warga. Serpihan logam bom berhamburan hingga ratusan meter dari titik peledakan.
Baca Juga: Prakiraan Cuaca Yogyakarta 12 Agustus 2025: Waspada Hujan dan Gelombang Laut Tinggi
Bom udara tersebut merupakan temuan warga di Tanjung, Umbulmartani, Ngemplak, Sleman, pada Minggu (10/8/2025). Setelah diamankan, bom dipindahkan ke area aman di Kali Gendol untuk proses disposal oleh tim Gegana Brimob Polda DIY.
Ciri Bom Udara Peninggalan PD II
Berdasarkan pengamatan visual, bom ini memiliki ciri yang sangat mirip dengan general-purpose bomb tipe AN-M65 500 lb atau sejenisnya yang digunakan pada era Perang Dunia II, antara lain:
- Bentuk silinder memanjang dengan ujung meruncing.
- Sirip stabilizer di bagian belakang (sebagian rusak).
- Material logam berkarat menandakan usia puluhan tahun.
Baca Juga: Kronologi Kecelakaan Maut Bus PO Cebong Jaya di Purbalingga, Satu Meninggal
Meski terlihat tua dan berkarat, bom udara jenis ini tetap berbahaya. Ledakannya mampu menyebabkan kerusakan besar dan mengancam nyawa. Masyarakat diimbau tidak memindahkan atau menyentuh benda mencurigakan yang menyerupai bom, dan segera melaporkannya kepada pihak berwenang.
Sebelumnya, Polresta Sleman bersama Tim Jibom Gegana Sat Brimob Polda DIY melakukan rangkaian disposal terhadap mortir raksasa berukuran panjang sekitar 180 cm dan diameter 100 cm yang ditemukan di Padukuhan Tanjung, Umbulmartani, Ngemplak, Sleman.
Mortir berbobot 400 kilogram itu hingga Senin (11/8/2025) petang belum berhasil diledakkan, sehingga proses pemusnahan dijadwalkan berlanjut Selasa ini. []






