Saat Sang Raja Menebar Berkah untuk Rakyat Yogyakarta

  • Whatsapp
Sri Sultan udhik udhik
Raja Keratoon Yogyakarta Sri Sultan HB X menyebar udhik udhik di Masjid Gedhe Kauman pada perayaan Maulud Nabi Muhammad SAW. (Pemda DIY)

BacaJogja – Malam itu, Kamis (4/9/2025), pelataran Kagungan Dalem Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta dipenuhi ratusan warga yang telah menanti dengan penuh antusias. Mereka rela berdesakan demi sebuah tradisi yang sudah diwariskan turun-temurun: Udhik-Udhik, prosesi berbagi rezeki dari raja untuk rakyatnya.

Sri Sultan Hamengku Buwono X, dengan penuh wibawa, menebarkan uang koin, beras kuning, dan bunga. Sekilas, jumlah yang dibagikan mungkin tidak seberapa. Namun, bagi masyarakat yang berdesakan untuk mendapatkannya, benda-benda itu bukan sekadar materi, melainkan simbol berkah, doa, dan kedermawanan seorang raja kepada rakyatnya.

Read More

Makna Filosofis Udhik-Udhik

Dalam tradisi Jawa, berbagi rezeki diibaratkan menebar benih kebaikan. Udhik-Udhik menjadi lambang kemurahan hati seorang pemimpin, bahwa seorang raja ada untuk menyejahterakan rakyatnya. Meski zaman berubah, makna Udhik-Udhik tetap terjaga: rezeki yang dibagikan membawa harapan akan kesejahteraan bersama.

“Udhik-udhik ini budaya nenek moyang. Dadi pemimpin kudu gawe kesejahteraan rakyat,” begitu falsafah yang masih dipegang teguh oleh Keraton.

Baca Juga: Dewi Kajii Culture Festival 2025: Event Budaya, UMKM, dan Kontes Ikan Nasional di Bantul

Nilainya memang tak besar, hanya receh, beras, dan bunga. Tetapi doa Ngarsa Dalem yang menyertai, dipercaya menambah manfaatnya. Seperti yang diungkapkan Wagiyem (59), salah seorang warga yang tahun ini berhasil membawa pulang empat koin.
“Buat penenang hati. Barang dari keraton saya simpan, tidak untuk dibelanjakan,” ujarnya dengan senyum bahagia.

Rangkaian Kondur Gongso

Tradisi sebar Udhik-Udhik bukanlah ritual tunggal, melainkan bagian dari rangkaian Kondur Gongso, salah satu acara penting dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Keraton Yogyakarta.

Setelah Udhik-Udhik, acara dilanjutkan dengan pembacaan riwayat Nabi Muhammad SAW di Masjid Gedhe Kauman. Puncaknya adalah pengarakan dua gamelan pusaka keraton, Kyai Guntur Madu dan Nagawilaga, kembali ke Bangsal Ksatriyan Keraton. Selama tujuh hari sebelumnya, kedua gamelan itu ditabuh tanpa henti di Pagongan Lor dan Kidul, sebagai bagian dari tradisi Maulid.

Baca Juga: Ketika Sendratari Sugriwa Subali Menyapa Yordania di Laguna Pantai Glagah

Prosesi pengembalian gamelan itu juga sarat simbol. Sebelum dibawa pulang, gamelan pusaka diberi sesaji berupa bungkusan makanan serta rangkaian bunga mawar dan melati, menandai rasa syukur sekaligus penghormatan.

Warisan yang Terus Dijaga

Setiap tahun, masyarakat menantikan momen Udhik-Udhik. Bagi mereka, bukan hanya soal mendapatkan koin atau beras, tetapi juga merasakan langsung sentuhan tradisi yang menyatukan raja dengan rakyat.

Meski kehidupan modern terus bergerak, tradisi ini tetap hidup. Udhik-Udhik mengajarkan bahwa kebahagiaan tidak selalu diukur dari jumlah materi, melainkan dari makna berbagi, doa, dan kebersamaan yang diwariskan turun-temurun.

Ketika koin-koin itu berkilau di tangan rakyat, sejatinya mereka menggenggam sesuatu yang lebih besar: harapan dan doa dari sang raja. []

Related posts