Ketika Sendratari Sugriwa Subali Menyapa Yordania di Laguna Pantai Glagah

  • Whatsapp
Sugriwa Subali
Sugriwa Subali menari di atas Laguna Pantai Glagah Kulon Progo (Pemkab Kulon Progo)

BacaJogja –  Senja mulai turun di Laguna Pantai Glagah, Kulon Progo. Permukaan air yang tenang berubah menjadi panggung alami ketika puluhan penari bersiap membawakan kisah epik dari epos Ramayana. Denting gamelan mengalun, menandai dimulainya Sendratari Sugriwa Subali, sebuah pertunjukan yang sarat makna persaudaraan, pengkhianatan, dan penyesalan.

Namun kali ini, ada sesuatu yang berbeda—adegan para ksatria kera tak hanya dipentaskan di daratan, melainkan juga di atas air, menghadirkan sensasi magis yang tak mudah dilupakan. Momen spesial ini untuk menyambut rombongan tamu dari Yordania—terdiri dari influencer ternama, perwakilan biro perjalanan, hingga perwakilan KBRI pada 28 Agustus 2025.

Read More

Biasanya, Sugriwa Subali dipentaskan di Goa Kiskenda, sebuah destinasi budaya yang menjadi ikon Kulon Progo. Namun, Joko Mursito menegaskan bahwa kesenian ini fleksibel mengikuti ruang. “Kita menyesuaikan dengan alam dan lingkungan. Di pantai, kita tampilkan di atas air. Pernah juga di hotel. Ceritanya tidak berubah, hanya tata panggung yang disesuaikan,” ujarnya.

Baca Juga: Polda DIY Pulangkan 23 Pelajar Peserta Demo, Tiga Diproses Hukum karena Bawa Sajam dan Molotov

Sekitar 40 hingga 45 penari berpadu dengan puluhan pengrawit, menciptakan harmoni visual dan musikal. Adegan klimaks pun makin dramatis ketika Sugriwa dan Subali tercebur langsung ke laguna—sebuah improvisasi yang menambah daya tarik pertunjukan tanpa mengubah alur klasiknya.

Misi Budaya, Misi Wisata

Tak hanya soal seni, Fam Trip ini menjadi jembatan diplomasi budaya. Joko menuturkan, tamu dari Yordania—terutama influencer—diharapkan membawa cerita pengalaman mereka ke khalayak luas. “Mulai 2026, targetnya setiap bulan ada minimal 100 wisatawan Yordania yang datang ke Yogyakarta,” jelasnya optimistis.

Menurutnya, promosi pariwisata tidak bisa berjalan sendiri. Kolaborasi dengan ASITA, GIPI, Badan Promosi Pariwisata, dan HPI menjadi bagian dari strategi agar wisata Yogyakarta semakin terintegrasi. “Paket wisata sebaiknya tidak tersekat. Dari Borobudur bisa lanjut ke Kulon Progo, lalu ke Bantul, Gunungkidul, hingga ke Parangtritis. Jogja dan Jateng harus bersinergi,” tambah Joko.

Baca Juga: Pecinta Kopi Wajib Datang! Jogja Coffee Week 2025 di JEC 5–7 September

Selain Sugriwa Subali, Kulon Progo juga tengah menggiatkan pertunjukan budaya lain seperti Bendongan yang dimainkan di Tonegoro Banjaroyo setiap malam bulan purnama. Belum lagi geliat 28 desa wisata yang kini menjadi tren favorit wisatawan mancanegara. Dari petik teh di Ngargosari, menginap di homestay, belajar bertani, hingga makan bersama warga desa dengan cara tradisional—semuanya menawarkan pengalaman otentik yang semakin dicari wisatawan asing.

Kekaguman dari Negeri Timur Tengah

Bagi para tamu Yordania, suguhan budaya di Laguna Pantai Glagah ini terasa begitu istimewa. Miss Reem Mohd Ali Al Masadeh, seorang influencer, mengaku terkesan. “Saya tidak pernah melihat yang seperti ini sebelumnya. Dari kultur saya, kami punya tarian tradisional Dabke, tapi ini sangat berbeda. Pertunjukan ini penuh dengan gerakan, karakter, cerita, dan benar-benar menakjubkan,” ungkapnya.

Kesan serupa dirasakan tamu lainnya. Bagi mereka, pengalaman menyaksikan tarian klasik Jawa yang berpadu dengan alam terbuka adalah hal yang langka, bahkan menambah keyakinan bahwa Yogyakarta menyimpan kekuatan budaya yang layak dipromosikan ke dunia internasional.

Baca Juga: Garebeg Mulud Keraton Yogyakarta 2025: Jadwal Lengkap Rangkaian Prosesi dan Tradisi Sakral

Pesan Moral yang Tak Lekang Waktu

Sendratari Sugriwa Subali memang bukan sekadar hiburan. Kisah dua saudara yang terjebak dalam kesalahpahaman hingga berujung pada pengkhianatan dan penyesalan, menyiratkan pesan mendalam: bahwa dendam dan emosi dapat menghancurkan persaudaraan yang paling erat sekalipun.

Dari laguna yang berkilauan di bawah rembulan, dari gamelan yang berpadu dengan debur ombak, Kulon Progo mengirimkan pesan budaya kepada dunia. Bahwa pariwisata tak hanya tentang panorama indah, tetapi juga tentang kisah, nilai, dan rasa yang mengikat manusia lintas bangsa.

Pertunjukan ini bukan sekadar hiburan. Malam itu, Laguna Pantai Glagah menjadi saksi digelarnya Familiarization Trip (Fam Trip) yang diprakarsai Dinas Pariwisata DIY dengan dukungan Dana Keistimewaan. Bupati Kulon Progo, Dr. H. Agung Setyawan, S.T., M.Sc., M.M., hadir langsung bersama Kepala Dinas Pariwisata DIY Drs. Imam Pratanadi, M.T., serta Kepala Dinas Pariwisata Kulon Progo, Joko Mursito, S.Sn., M.A. []

Related posts