Viral Konten Editan “Tugu Jogja Ambruk”, Warga Yogyakarta Geram: Simbol Sejarah Jangan Dijadikan Candaan

  • Whatsapp
hoaks tugu jogja
Konten editan TikTok bertajuk “Tugu Jogja Ambruk” viral dan menuai kecaman warga Yogyakarta. (Ist)

BacaJogja – Warga Yogyakarta belakangan dibuat heboh oleh sebuah unggahan TikTok yang menampilkan Tugu Yogyakarta seolah-olah ambruk. Meski hanya hasil editan digital, konten tersebut cepat viral dan memicu perdebatan panas di media sosial.

Dalam tangkapan layar yang beredar, tampak Tugu Jogja—ikon sejarah dan simbol penting Sumbu Filosofis—diedit dengan visual roboh, lengkap dengan caption berbahasa Jawa “salahe takon kok ragenah” serta tagar #tugujogjaambruk. Tak sedikit warganet yang mengira kejadian itu benar-benar terjadi.

Read More

Reaksi Keras Warga dan Warganet

Banyak warganet, terutama warga Jogja, mengecam konten tersebut karena dinilai menyesatkan dan tidak menghormati nilai historis yang menyertai Tugu Jogja. Bukan sekadar bangunan biasa, Tugu merupakan simbol kota yang memiliki nilai budaya, filosofis, dan emosional mendalam bagi masyarakat Yogyakarta.

Baca Juga: Jogja Urban Enduro 2025 Hadirkan Sensasi Balap Sepeda di Jantung Kota Yogyakarta

Sebuah komentar viral dari akun beridentitas “SRI SULTAN HB X FAMILY” menegur keras sang pembuat konten:

“Nyuwun sewu nggih mas, lain kali kalau buat konten dipikir dulu. Ini Tugu Jogja loh—ikoniknya Yogyakarta, bagian dari Sumbu Filosofis yang bersejarah dan sakral. Kalau sampeyan wong Jogja, mestinya paham maknanya. Yo rapopo buat konten, tapi jangan jadikan tempat bersejarah seperti ini bahan bercandaan.”

Komentar lain juga menegaskan bahwa Tugu Jogja telah diakui secara internasional sebagai warisan budaya, sehingga menjadikannya bahan hoaks dianggap sebagai bentuk ketidakpedulian terhadap sejarah dan jati diri kota.

Baca Juga: Kick Off Program “Bersama Jajan dan Makan Halal dan Thoyyiban”, Dorong Kesadaran Halal di Yogyakarta

Etika Digital Semakin Penting

Kasus viral ini menjadi pengingat bahwa kreativitas konten dan etika digital harus berjalan beriringan. Di era kecepatan informasi, satu unggahan editan dapat memicu kesalahpahaman massal bahkan berpotensi menyinggung identitas budaya suatu daerah.

Konten boleh kreatif—tetapi tetap harus bertanggung jawab.
Menghadirkan engagement bukan berarti mengorbankan nilai budaya dan sejarah yang sakral bagi masyarakatnya. []

Related posts