BacaJogja – Menjelang akhir tahun, dinamika ekonomi global masih menunjukkan ketidakpastian. Fluktuasi kebijakan tarif resiprokal Amerika Serikat, perlambatan permintaan dunia, serta volatilitas pasar keuangan menjadi tantangan eksternal yang membayangi banyak negara. Namun di tengah tekanan tersebut, indikator ekonomi domestik Indonesia justru menunjukkan ketahanan yang cukup kuat dan konsisten.
Chief Economist Bank Mandiri, Andry Asmoro, dalam laporan Macro Economic Outlook 4Q2025, mengungkapkan bahwa tren perbaikan ekonomi nasional terus berlanjut. Hal ini tercermin dari Purchasing Manufacturing Index (PMI) yang meningkat ke level 53,3 serta Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang mencapai titik tertinggi dalam lima bulan terakhir.
“Perbaikan ini menandakan pulihnya persepsi masyarakat terhadap prospek ekonomi, sekaligus membuka ruang akselerasi pada 2026,” ujar Andry.
Sinergi Kebijakan Jadi Penopang Utama Ketahanan Ekonomi
Menurut Tim Ekonom Bank Mandiri, ketahanan ekonomi Indonesia tidak terlepas dari sinergi kebijakan antara pemerintah dan otoritas moneter. Kebijakan fiskal dan moneter yang ekspansif serta berbagai stimulus ekonomi memberikan dorongan signifikan terhadap konsumsi masyarakat.
Capaian pertumbuhan ekonomi Triwulan III 2025 sebesar 5,04 persen dan inflasi yang terjaga di 2,7 persen menunjukkan fundamental ekonomi yang tetap solid.
“Sinergi kebijakan fiskal dan moneter yang akomodatif menjadi jangkar kestabilan, sekaligus fondasi peningkatan aktivitas ekonomi tahun depan,” lanjut Andry.
Meski tekanan global sempat mendorong outflow portofolio dan depresiasi nilai tukar, respons pemerintah dan Bank Indonesia dinilai efektif menjaga stabilitas pasar keuangan. Stabilitas tersebut ditunjukkan dengan meningkatnya belanja pemerintah, pasar obligasi yang tetap terjaga, serta IHSG yang menyentuh level all time high, mengindikasikan kuatnya kepercayaan investor domestik.
Baca Juga: Pembuat Konten “Tugu Jogja Ambruk” Minta Maaf Terbuka: Saya Tidak Berniat Hina Ikon Yogyakarta
Pertumbuhan Ekonomi 2026 Diproyeksikan Meningkat
Melihat tren dan indikator yang ada, Bank Mandiri memproyeksikan ekonomi Indonesia berpeluang tumbuh 5,2 persen pada 2026. Pertumbuhan tersebut didorong oleh:
- Konsumsi rumah tangga yang tetap kuat
- Pemulihan investasi
- Kebijakan fiskal yang lebih ekspansif
- Program strategis pemerintah yang memberikan multiplier effect pada sektor manufaktur, pengolahan, dan sektor padat karya
Baca Juga: Transformasi Digital Berbuah Manis, Yogyakarta Raih Tiga Penghargaan TP2DD Championship 2025
Perbankan Siap Dorong Intermediasi Kredit
Sektor perbankan juga diperkirakan tetap berada dalam kondisi yang solid. Penyaluran kredit Bank Mandiri hingga kuartal III 2025 tumbuh 11 persen YoY, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan industri. Pertumbuhan ini ditopang oleh peningkatan permintaan pembiayaan produktif serta kondisi likuiditas yang membaik.
Dominasi Current Account and Saving Account (CASA) atau dana murah turut memperkuat efisiensi biaya dana, sehingga ruang intermediasi semakin optimal untuk mendukung pemulihan ekonomi.
Andry menegaskan bahwa optimisme terhadap pemulihan ekonomi 2026 akan tetap kuat selama koordinasi kebijakan antara pemerintah, regulator, dan pelaku industri berjalan efektif.
“Sinergi tetap menjadi faktor kunci dalam menjaga stabilitas, memperkuat produktivitas nasional, serta membuka ruang akselerasi pertumbuhan di tahun mendatang,” tegasnya. []






