Pak Sutopo Setia Mengayuh Literasi di Yogyakarta, Becak Listrik Pustaka Terus Menyapa Warga

  • Whatsapp
becaka listrik pustaka
Pak Sutopo setia mengayuh literasi di Yogyakarta lewat Becak Listrik Pustaka. Didukung Dana Keistimewaan DIY, gerakan membaca terus berjalan. 9Ist)

BacaJogja – Di tengah derasnya arus digital dan gempuran gawai, semangat literasi di Yogyakarta masih menemukan jalannya. Salah satunya lewat sosok Pak Sutopo, pengayuh becak yang konsisten menghadirkan buku bacaan bagi masyarakat melalui Becak Pustaka, inovasi sederhana yang telah menginspirasi banyak orang sejak beberapa tahun lalu.

Nama Pak Sutopo sempat mencuat ke ruang publik ketika ia menyulap becaknya menjadi perpustakaan keliling. Penumpang tidak hanya diantar ke tujuan, tetapi juga diajak membaca buku selama perjalanan. Gagasan itu menjadikan becak bukan sekadar alat transportasi, melainkan ruang belajar yang bergerak dari satu sudut kota ke sudut lainnya.

Read More

Masih Aktif Beroperasi Hingga Kini

Berbeda dengan anggapan sebagian orang yang mengira gerakan tersebut berhenti, Pak Sutopo hingga kini masih aktif beroperasi. Setiap hari, ia memulai aktivitas sejak dini hari.

Pada pukul 03.00 hingga 10.00 WIB, Pak Sutopo biasa mangkal di sekitar depan Bank BPD DIY. Setelah itu, ia bergeser ke area depan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIPOL) UGM hingga sekitar pukul 13.00 WIB. Di dua titik itulah, becak pustaka miliknya kerap menjadi perhatian warga dan mahasiswa.

Rak buku yang tertata di becaknya berisi beragam bacaan, mulai dari buku anak, pengetahuan umum, hingga bacaan ringan yang bisa dinikmati siapa saja.

Kini, semangat literasi Pak Sutopo hadir dengan wajah baru. Ia menggunakan becak kayuh bertenaga listrik, yang merupakan dukungan dari Pemerintah Daerah DIY melalui Dana Keistimewaan.

Penggunaan becak listrik ini membuat aktivitas Pak Sutopo lebih ringan dan menjangkau lebih luas, tanpa menghilangkan ciri khas becak sebagai transportasi tradisional Yogyakarta. Perpaduan antara teknologi, kearifan lokal, dan misi pendidikan menjadikan Becak Listrik Pustaka sebagai simbol inovasi sosial di kota budaya.

Literasi dari Jalanan untuk Semua Kalangan

Gerakan Pak Sutopo membuktikan bahwa literasi tidak selalu harus hadir di ruang formal. Dari jalanan, dari kayuhan becak, dan dari interaksi sederhana dengan penumpang, budaya membaca bisa tumbuh secara alami.

Bagi sebagian penumpang, pengalaman naik becak Pak Sutopo bukan hanya soal perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan pengetahuan. Anak-anak hingga orang dewasa diajak untuk kembali akrab dengan buku di sela aktivitas harian.

Inspirasi dari Yogyakarta

Konsistensi Pak Sutopo menjaga gerakan literasi ini menjadi inspirasi bahwa perubahan bisa dimulai dari langkah kecil. Di saat banyak orang mengeluhkan rendahnya minat baca, ia justru turun langsung ke masyarakat, membawa buku mendekat kepada pembacanya.

Becak Listrik Pustaka milik Pak Sutopo kini bukan hanya alat transportasi, melainkan simbol harapan bahwa literasi bisa hidup dan tumbuh di mana saja—selama ada kemauan dan ketulusan. []

Related posts