Menjelajah “Jewellery of Jogja”: Keindahan Abadi Kerajinan Perak Kotagede Yogyakarta

  • Whatsapp
perak kotagede
Pengrajin perak Kotagede Yogyakarta. (Ist)

BacaJogja – Di balik gang-gang sempit yang tenang di sudut selatan Yogyakarta, berkilauan gemerlap perak yang tak lekang oleh waktu. Kotagede, yang dulunya merupakan ibu kota Kerajaan Mataram Islam, menjelma menjadi surga para pecinta kerajinan logam mulia. Tak heran jika kawasan ini dijuluki sebagai Jewellery of Jogja, sentra kerajinan perak paling ikonik di Indonesia.

Memasuki kawasan Kotagede, mata akan dimanjakan oleh deretan toko-toko kecil yang menjajakan aneka rupa kerajinan perak: mulai dari perhiasan elegan, miniatur sepeda yang detailnya menakjubkan, hingga replika andong yang menggugah nostalgia. Semua dibuat dengan tangan terampil para perajin lokal, yang telah mewarisi keahlian ini secara turun-temurun sejak zaman kolonial Belanda.

Read More

Baca Juga: Ketika Pekerjaan yang Dijanjikan Berujung Perdagangan Anak Lewat Aplikasi MiChat di Bantul

Sejarah panjang kerajinan perak di Kotagede bermula dari kebutuhan Keraton Yogyakarta. Kala itu, hanya bangsawan yang dapat memiliki benda-benda dari perak. Namun, perubahan besar datang ketika Mary Agnes, istri Gubernur Belanda, melihat potensi luar biasa dalam keahlian para perajin Kotagede. Ia mendorong pengembangan industri kerajinan perak menjadi lebih luas, membuka akses bagi pasar luar negeri, dan menjadikan perak Kotagede dikenal hingga mancanegara.

Kini, kerajinan perak bukan lagi semata-mata soal keindahan, tetapi juga simbol kekuatan ekonomi kreatif lokal. “Kami tidak hanya membuat perhiasan, tapi juga mewariskan cerita dan budaya dalam setiap ukiran,” ujar seorang perajin senior yang telah menggeluti seni ini sejak muda.

Harga kerajinan perak di Kotagede pun bervariasi, mulai dari belasan ribu hingga puluhan juta Rupiah, tergantung pada ukuran dan tingkat kerumitan desainnya. Namun satu hal yang pasti: setiap karya menyimpan nilai seni tinggi dan keunikan yang tak bisa ditiru mesin.

Baca Juga: Libur Panjang Kenaikan Isa, Jadwal Commuter Yogyakarta–Palur Jadi 31 Perjalanan per Hari

Para wisatawan, baik dari dalam negeri maupun luar negeri, tak pernah absen mengunjungi kawasan ini. Banyak dari mereka sengaja datang untuk membeli suvenir khas, memesan aksesori pernikahan, bahkan sekadar menyaksikan langsung proses pembuatan perak secara manual.

Tak hanya mempercantik tubuh atau meja pajangan, kerajinan peindustrirak Kotagede telah menjadi denyut nadi perekonomian warga. Industri ini membuka lapangan kerja, memperkuat identitas budaya lokal, dan menjadi bukti bahwa kriya—sebagai bagian dari subsektor ekonomi kreatif—memiliki daya tahan luar biasa dalam menghadapi zaman.

Dengan pesonanya yang tak pernah pudar, kerajinan perak Kotagede terus bersinar. Bukan sekadar oleh-oleh, tetapi mahakarya tangan-tangan terampil yang menghidupkan warisan budaya dalam setiap helai logamnya. []

Related posts