Dosen UPN Veteran Yogyakarta Dampingi Masjid An-Nashir Kelola Keuangan dan Aset Berbasis Digital

  • Whatsapp
Masjid An-Nashir Yogyakarta
Dosen UPN Veteran Yogyakarta Dampingi Masjid An-Nashir Kelola Keuangan dan Aset Berbasis Digital (Ist)

BacaJogja – Masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah umat Islam, tetapi juga memiliki peran penting dalam pengembangan masyarakat, mulai dari kegiatan sosial, pendidikan, hingga pusat kebudayaan. Namun, masih banyak masjid yang menghadapi tantangan dalam pengelolaan keuangan dan aset secara profesional, termasuk dalam hal digitalisasi.

Melihat kondisi tersebut, tim dosen Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Yogyakarta yang terdiri dari Dwi Sudaryati, Sucahyo Heriningsih, dan Dewi Novianti menginisiasi program pengabdian masyarakat dengan fokus pada pengelolaan keuangan masjid berbasis digital. Program ini dilaksanakan selama tiga bulan, mulai September hingga November, dengan target utama Masjid An-Nashir di Kampung Tegalsari, Umbulharjo, Yogyakarta.

Read More

Ketua Takmir Masjid An-Nashir, Ari Winarto, menyampaikan bahwa selama ini pencatatan dana masjid masih dilakukan secara manual. “Permasalahan yang kami hadapi adalah antara dana yang masuk dan keluar tidak tercatat secara sistematis. Aset masjid pun belum diinventarisasi secara digital, padahal jumlahnya semakin bertambah seiring tingginya kesadaran jamaah untuk berinfak,” ujarnya.

Baca Juga: KAI Wisata Rayakan HUT ke-16, Hadirkan Promo dan Diskon Spesial untuk Pelanggan

Sekretaris Masjid An-Nashir, Tjahyo Sukmono, menambahkan bahwa sumber pendanaan masjid berasal dari donatur, kotak amal, infaq, shadaqah, zakat, dan wakaf. “Masjid memiliki banyak kegiatan, mulai dari pengajian rutin, pasar bahagia, kajian kitab, hingga taman pendidikan Al-Qur’an. Semua itu membutuhkan manajemen dana yang transparan,” jelasnya.

Dalam sosialisasi, Dwi Sudaryati menegaskan pentingnya transparansi dan akuntabilitas. “Proses pencatatan keuangan dan aset yang transparan akan menambah kepercayaan jamaah. Semua jamaah tentu ingin mendapatkan informasi yang jelas dan cepat mengenai kegiatan dan keuangan masjid,” katanya.

Senada, Sucahyo Heriningsih menekankan perlunya pencatatan aset secara sistematis. “Semua jenis aset, baik bergerak maupun tidak bergerak, harus tercatat, termasuk aset yang mengalami penyusutan maupun aset tetap,” terangnya.

Baca Juga: 6 Prioritas Pembangunan DIY 2026, Sri Sultan Targetkan Pertumbuhan Ekonomi 5,9 Persen

Sementara itu, Dewi Novianti menyoroti keberlanjutan pendanaan masjid. “Banyaknya aktivitas masjid membutuhkan dana yang tidak sedikit. Ke depan, selain pengelolaan keuangan digital, masjid juga perlu mengembangkan unit usaha ekonomi agar memiliki sumber pendanaan mandiri dan berkelanjutan,” jelasnya.

Sebagai bagian dari program, tim dosen UPN Veteran Yogyakarta juga menyerahkan satu unit laptop kepada pengurus Masjid An-Nashir untuk mendukung implementasi sistem digital. “Kami sangat senang dengan pelatihan, sosialisasi, dan pendampingan ini. Hibah laptop akan sangat membantu kami membuat laporan keuangan yang transparan dan akuntabel berbasis digital,” ungkap Ari Winarto.

Program ini diharapkan dapat menjadi contoh bagi masjid lain dalam meningkatkan tata kelola keuangan yang profesional, transparan, dan sesuai dengan perkembangan teknologi digital. []

Related posts