BacaJogja — Suasana Malioboro pada Rabu pagi tampak berbeda dari biasanya. Ribuan masyarakat memadati kawasan ikon wisata Yogyakarta tersebut untuk mengikuti doa bersama dalam rangka mendukung saudara-saudara di Sumatera yang tengah mengalami musibah.
Kegiatan ini merupakan bagian dari Malioboro Charity for Sumatera, sebuah gerakan kemanusiaan berbasis seni dan budaya yang diinisiasi oleh Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta. Dukungan mengalir dari warga, komunitas seni, pegiat budaya, pelaku UMKM, hingga wisatawan yang tanpa ragu berhenti sejenak untuk ikut mendoakan dan berdonasi.
Aksi Kemanusiaan Berbalut Seni dan Budaya
Kepala Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, Yetti Martanti, menjelaskan bahwa kegiatan ini sengaja digelar untuk menggerakkan solidaritas melalui pendekatan budaya yang selama ini melekat pada kawasan Malioboro.
“Aksi ini merupakan wujud dukungan moral dan solidaritas untuk saudara-saudara di Sumatera yang tengah mengalami musibah dan membutuhkan bantuan,” ungkap Yetti.
Baca Juga: Sultan HB X Kutip Serat Piwulang: Leluhur Kita Sudah Mengajarkan Integritas dan Antikorupsi
Ia menegaskan, Malioboro bukan hanya sekadar destinasi wisata, tetapi juga ruang publik yang hidup dan dinamis—tempat masyarakat berkumpul, berekspresi, dan bergerak bersama demi kepentingan sosial.
“Hari ini Malioboro hadir bukan hanya sebagai ruang seni budaya, tetapi juga ruang publik yang menggerakkan kepedulian dan kesejahteraan masyarakat,” tambahnya.
QRIS Baznas Dipasang di Sepanjang Malioboro
Setelah doa bersama, kegiatan dilanjutkan dengan penggalangan dana yang dikoordinasikan oleh Dinas Kebudayaan bekerja sama dengan Baznas Kota Yogyakarta. Untuk memudahkan donasi, QRIS resmi Baznas dipasang di berbagai titik mulai Malioboro hingga Titik Nol Kilometer.
“QRIS ini disiapkan agar masyarakat yang ingin menyumbangkan sedikit rezekinya bisa langsung memindai QR yang sudah terpasang,” jelas Yetti.
Wisatawan tampak antusias, banyak di antaranya memindai QRIS menggunakan gawai mereka sebelum melanjutkan perjalanan.
Jangan Bobor Sambel Jenggot, Simbol Kebersamaan ala Jogja
Tak hanya doa bersama, digelar pula kegiatan makan bareng “Jangan Bobor Sambel Jenggot”, sebagai simbol kebersamaan dan gotong royong khas Jogja. Suasana hangat tercipta ketika warga dan wisatawan duduk bersama menikmati hidangan tradisional yang disajikan secara kolektif.
Baca Juga: Temui Sri Sultan HB X di Kepatihan, Kepala BPN DIY Sepyo Achanto Siap Perangi Mafia Tanah
Gelaran Malioboro Charity for Sumatera berlangsung hingga pukul 18.00 WIB dengan ragam pertunjukan, antara lain:
- Kesenian Angguk
- Penampilan Bidadari Band
- Pembacaan puisi bertema kemanusiaan
- Aksi flashmob komunitas seni
Rangkaian acara ini menjadi magnet tersendiri bagi pengunjung yang ingin merasakan atmosfer kemanusiaan berbalut seni.
Respons Warga dan Wisatawan: Hangat dan Kompak
Langkah ini mendapat respons positif dari masyarakat. Banyak yang terharu melihat kekompakan warga Jogja dalam menggalang kepedulian.
Salah satunya Salsabila, wisatawan asal Bandung, mengaku tak menyangka akan menyaksikan momen mengharukan ketika berkunjung ke Malioboro.
“Saya hanya berniat jalan-jalan, tapi ternyata ada doa bersama dan penggalangan dana. Jujur saya terharu. Jarang sekali saya melihat kota yang warganya kompak seperti ini,” ujarnya.
Dinas Kebudayaan berharap kegiatan ini tidak hanya menggerakkan bantuan material, tetapi juga menghadirkan dukungan emosional dan moral bagi warga Sumatera agar dapat segera bangkit dari bencana yang terjadi. []






